Rabu 14 Sep 2022 20:15 WIB

AS Pindahkan Aset Bank Sentral Afghanistan ke Swiss

AS mentransfer aset bank sentral Afghanistan senilai 3,5 miliar dolar AS ke Swiss

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani
Dolar AS
Foto: Republika/Aditya Pradana Putra
Dolar AS

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Amerika Serikat (AS) akan mentransfer aset bank sentral Afghanistan senilai 3,5 miliar dolar AS ke dalam dana perwalian baru yang berbasis di Swiss, agar tidak dapat dijangkau oleh Taliban. Aset ini akan digunakan untuk membantu menstabilkan ekonomi Afghanistan yang runtuh.

Dana Afghanistan, yang dikelola oleh dewan pengawas, dapat membiayai impor penting seperti listrik. Dana ini juga dapat menutupi pembayaran utang kepada lembaga keuangan internasional, melindungi kelayakan Afghanistan untuk bantuan pembangunan, dan mendanai pencetakan mata uang baru.

"Dana Afghanistan akan melindungi, melestarikan, dan melakukan pencairan yang ditargetkan sebesar 3,5 miliar dolar AS untuk membantu memberikan stabilitas yang lebih besar bagi ekonomi Afghanistan," kata Departemen Keuangan AS dalam sebuah pernyataan.

Pejabat AS mengatakan, aset tersebut tidak akan masuk ke bank sentral Afghanistan (DAB). Dana tersebut juga akan bebas dari campur tangan politik. Karena pejabat tinggi bank sentral digantikan oleh pejabat Taliban yang dua antaranya berada di bawah sanksi AS dan PBB.

"Mengirim aset ke DAB akan menempatkan mereka pada risiko yang tidak dapat diterima dan membahayakan mereka sebagai sumber dukungan bagi rakyat Afghanistan," kata Wakil Menteri Keuangan AS Wally Ademeyo dalam sebuah surat kepada Dewan Tertinggi bank sentral yang dilihat oleh Reuters.  

Aset tersebut akan ditempatkan dalam sebuah rekening di Bank for International Settlements yang berbasis di Basel. Bank ini menyediakan layanan keuangan kepada bank sentral.  Dana tersebut tidak akan menyelesaikan masalah serius yang mendorong krisis ekonomi dan kemanusiaan di Afghanistan yang terancam memburuk saat musim dingin. PBB mencatat, hampir setengah dari 40 juta orang Afghanistan menghadapi kelaparan akut.

Tantangan fiskal terbesar Taliban adalah mengembangkan pendapatan baru untuk mengkompensasi bantuan keuangan yang menyediakan hingga 75 persen dari pengeluaran pemerintah. Bantuan keuangan ini berakhir setelah Taliban kembali menguasai Afghanistan pada Agustus 2021, ketika pasukan pimpinan Amerika mengakhiri dua dekade kekuasaan dan perang di negara tersebut.

"Ekonomi Afghanistan menghadapi masalah struktural yang serius, diperburuk oleh pengambilalihan Taliban," ujar seorang pejabat senior AS yang berbicara dengan syarat anonim.

Krisis telah dipicu oleh perang selama puluhan tahun, kekeringan, pandemi Covid-19, korupsi endemik, dan pemutusan bank sentral dari sistem perbankan internasional. Pembentukan dana perwalian baru terjadi setelah pembicaraan antara pemerintahan Presiden AS Joe Biden, Swiss, pihak lain dan Taliban, yang menuntut pengembalian aset bank sentral Afghanistan senilai 7 miliar dolar AS yang disimpan di Amerika Serikat.

Pembicaraan berlanjut meskipun AS marah pada Taliban karena menyembunyikan mendiang pemimpin Alqaeda Ayman al-Zawahiri, yang tewas pada 31 Juli dalam serangan pesawat tak berawak CIA di rumah persembunyiannya di Kabul. Komunitas internasional geram atas tindakan keras Taliban yang melanggar hak asasi manusia, termasuk melarang anak perempuan kembali ke sekolah menengah yang dikelola negara.

Pada Februari, Biden menyita aset DAB senilai 3,5 miliar dolar AS untuk ditransfer ke dana perwalian baru, yang digunakan untuk kepentingan rakyat Afghanistan. Sementara dana senilai 3,5 miliar dolar AS lainnya sedang diperebutkan dalam tuntutan hukum terhadap Taliban yang terkait dengan serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat.  Pengadilan dapat memutuskan untuk melepaskan uang itu, yang dapat disimpan dalam dana perwalian yang baru.  

Aset bank sentral Afghanistan lainnya senilai 2 miliar dolar AS yang disimpan di bank-bank Eropa dan Emirat juga bisa berakhir disimpan di dana perwalian baru. Dana perwalian tersebut akan diawasi oleh dewan yang terdiri dari perwakilan pemerintah AS, perwakilan pemerintah Swiss, mantan gubernur bank sentral dan mantan menteri keuangan Afghanistan Anwar Ahady, serta seorang akademisi AS yang berada di Dewan Tertinggi bank sentral Afghanistan, Shah Mehrabi.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement