Kamis 22 Sep 2022 10:52 WIB

Erick Yakin Generasi Muda Lebih Terbuka pada Pemanfaatan Kompor Listrik

Erick yakin generasi muda lebih mau menerima kemudahan penggunaan kompor listrik

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Menteri BUMN Erick Thohir yakin generasi muda akan lebih terbuka terhadap pemanfaatan kompor listrik dikarenakan adanya perubahan gaya hidup menuju eco lifestyle atau gaya hidup ramah lingkungan.
Foto: Republika/Intan Pratiwi
Menteri BUMN Erick Thohir yakin generasi muda akan lebih terbuka terhadap pemanfaatan kompor listrik dikarenakan adanya perubahan gaya hidup menuju eco lifestyle atau gaya hidup ramah lingkungan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri BUMN Erick Thohir yakin generasi muda akan lebih terbuka terhadap pemanfaatan kompor listrik dikarenakan adanya perubahan gaya hidup menuju eco lifestyle atau gaya hidup ramah lingkungan.

"Saya yakin generasi muda akan lebih terbuka terhadap kompor listrik karena lebih mudah digunakan," ujar Erick dalam konferensi pers di Kantor Pusat PLN, Jakarta, Rabu (21/9).

Dia melihat saat ini terjadi perubahan tren gaya hidup generasi muda."Saat ini terdapat tren gaya hidup di mana generasi muda hidup sendiri atau berdua dengan pasangannya di apartemen," katanya.

Kementerian BUMN dan PLN telah mendorong program kompor listrik di apartemen dan rumah yang dibangun oleh perusahaan-perusahaan BUMN.

"Apakah masyarakat lebih luas menginginkan kompor listrik? Hal itu sah-sah saja karena bagian daripada eco lifestyle," kata Erick.

Terkait dengan kompor gas LPG, Erick mengatakan bahwa pemerintah tidak mungkin langsung menghapuskannya. Hal ini dikarenakan masih ada masyarakat yang berada di bawah seperti pedagang asongan yang harus bergantung pada bahan bakar gas.

Infrastruktur serta ekosistem gas LPG saat ini seperti agen gas LPG dan sebagainya yang sudah terbangun sejak lama juga tidak boleh langsung dimatikan, karena merupakan bagian daripada ekonomi Indonesia.

Maka dari itu, ujar Erick, terdapat upaya untuk melakukan konversi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) melalui proses gasifikasi.

"Transisi ini yang perlu kita jaga di mana terdapat keseimbangan antara gas LPG, DME dan kompor listrik," ucap Erick.

Dalam kesempatan sama, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan

dari per kilogram gas LPG yang dikonversi ke kompor listrik, terdapat penghematan biaya sekitar Rp 8 ribu per kilogram gas LPG.

"Tentu saja dengan adanya potensi penghematan ini diharapkan dapat mengubah dari yang tadinya menggunakan energi impor menjadi energi domestik," katanya.

Selain itu program kompor listrik juga diharapkan dapat mengubah energi yang mahal menjadi energi yang murah sehingga terjangkau semua kalangan.

Untuk itulah, PLN mendukung program kompor listrik dengan mempertimbangkan suatu keseimbangan yang merupakan masukan dari Kementerian BUMN dan Kementerian Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement