Pada Masa Hindia Belanda, Jeddah Tempat Penampungan Jamaah Haji tak Laik Huni

Rabu , 19 Oct 2022, 21:07 WIB Reporter :Ali Yusuf/ Redaktur : Muhammad Hafil
Pada Masa Hindia Belanda, Jeddah Tempat Penampungan Jamaah Haji tak Laik Huni. Foto: Kapal yang membawa jamaah haji berangkat ke Makkah pada tempo dulu.
Pada Masa Hindia Belanda, Jeddah Tempat Penampungan Jamaah Haji tak Laik Huni. Foto: Kapal yang membawa jamaah haji berangkat ke Makkah pada tempo dulu.

IHRAM.CO.ID, JAKARTA--Jeddah merupakan tempat penampungan jamaah haji seluruh dunia termasuk jamaah haji Hindia Belanda (Indonesia). Tempat ini pada  tahun 1926 sampai 1933 tidak laik ditempati karena tidak memenuhi persyaratan kebersihan dan kesehatan.

 

Terkait

"Setiap tahun ribuan jamaah calon haji yang menuju Makkah/pulang dari Makkah harus tinggal di Jeddah dalam keadaan kekurangan kuantitas/kualitas penampungan," kata Nani Amalia dalam diskusi Buku dengan judul 'Segi Kesehatan Perjalanan Ziarah Ke Makkah' beberapa waktu lalu.

Baca Juga

Di kota Jeddah, sampah berserakan di antara rumah dan jalan, orang yang berasal dari berbagai negara berlalu lalang bersama dengan berbagai binatang, seperti unta, sapi, keledai, kambing dan kucing. Iklim di Jeddah juga sangat tidak menentu, kadang sepanjang tahun tidak pernah ada hujan.

"Tapi di saat hujan besar, banyak menyebabkan banjir. Dan muka air  tanah yang dangkal mengakibatkan cepat penuh sumur penampungan," katanya.

Nani mengatakan, kondisi Jeddah ini dikisahkan oleh dokter dr. M.H Abdoel Patah, Ph.D dalam disertasinya yang berjudul “The Medische zijde Van The Bedevaart Naar Mekkah”. Abdoel Patah merupakan dokter haji di era Pemerintah Hindia Belanda yang kedua setelah dr Heerdjan.

"Ini hanya gambaran pada saat kedatangan beliau ke Jeddah," katanya.

Pada saat dr Abdoel Patah datang ke Jeddah, apotek sudah dua tahun tidak beroprasi. Akibatnya peralatan rusak, obat sudah kadaluarsa dan kemudian kondisi Rumah Sakit di Jeddah sama sekali tidak memenuhi persyaratan kesehatan.

"Jadi tidak dapat menerima rawat inap pasien, sehingga pasien ditampung di kapal," katanya.

Dapat dipastikan RS di Jeddah pada saat itu sangat memprihatinkan, jadi tidak laik untuk digunakan jamaah haji yang mengeluh sakit. Fasilitas di RS Jeddah pada saat itu rusak tak terawat.

"Ruang pemeriksaan pasien, dan kamar operasi sangat jauh dari persyaratan kebersihan," katanya. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini