Kamis 20 Oct 2022 19:03 WIB

Umat Muslim Texas Himpun Dana untuk Bantu Pengungsi

Upaya ini dilakukan untuk menjangkau komunitas Muslim di luar Dallas.

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Ani Nursalikah
Seorang perawat membagikan masker di sebuah kamp pengungsi improvisasi di Ciudad Acua, Meksiko, Selasa, 21 September 2021. Pilihan yang tersisa untuk ribuan migran Haiti yang melintasi perbatasan Meksiko-Texas semakin menyempit ketika pemerintah Amerika Serikat mencapai yang diharapkan enam penerbangan pengusiran ke Haiti, dan Meksiko mulai menggunakan bus beberapa dari perbatasan. Umat Muslim Texas Himpun Dana untuk Bantu Pengungsi
Foto: AP/Felix Marquez
Seorang perawat membagikan masker di sebuah kamp pengungsi improvisasi di Ciudad Acua, Meksiko, Selasa, 21 September 2021. Pilihan yang tersisa untuk ribuan migran Haiti yang melintasi perbatasan Meksiko-Texas semakin menyempit ketika pemerintah Amerika Serikat mencapai yang diharapkan enam penerbangan pengusiran ke Haiti, dan Meksiko mulai menggunakan bus beberapa dari perbatasan. Umat Muslim Texas Himpun Dana untuk Bantu Pengungsi

REPUBLIKA.CO.ID, DALLAS -- Ratusan orang dari komunitas Muslim Texas Utara berkumpul selama akhir pekan dan mengumpulkan puluhan ribu dolar yang akan membantu keluarga pengungsi di daerah itu. Uang yang terkumpul digunakan untuk sewa tempat tinggal, makanan, pakaian, dan kebutuhan para pengungsi.

Pendiri DFW Refugee Outreach Services, yang mengorganisir penggalangan dana, Zeenat Khan mengatakan acara itu adalah yang pertama dari jenisnya yang diadakan oleh organisasi nirlaba dan diklaim berjalan dengan sukses. Upaya ini dilakukan untuk menjangkau komunitas Muslim di luar Dallas.

Baca Juga

“Kami mencoba untuk mendapatkan orang-orang dari komunitas seperti Plano, Frisco dan Richardson karena saya merasa orang-orang tidak begitu menyadari pekerjaan kami,” kata Khan dilansir dari The Dallas Morning News, Rabu (19/10/2022).

Acara ini menampilkan panel pembicara tamu dan kegiatan untuk meningkatkan kesadaran tentang rintangan yang dihadapi oleh keluarga yang telah bermukim kembali di Texas Utara sebagai pengungsi. Termasuk kesulitan terkait akses bahasa, bantuan pekerjaan dan kurangnya kebutuhan dasar.

Pada tahun lalu, organisasi tersebut telah menangani gelombang besar pengungsi dari Afghanistan, beberapa di antaranya berjuang untuk menemukan pijakan yang kuat di AS. Badan-badan pemukiman kembali pengungsi yang bertugas mencarikan perumahan bagi para pengungsi memperkirakan bahwa lebih dari 1.500 warga Afghanistan pindah ke Dallas pada tahun lalu saja. Angka itu tidak termasuk keluarga yang telah bermukim di bagian lain Texas Utara.

“Bahkan jika lima atau enam keluarga yang dapat kami sewa (tempat tinggal) untuk beberapa bulan, itu adalah lima atau enam keluarga yang tidak akan kehilangan tempat tinggal,” kata Khan.

Makanan di acara tersebut disediakan oleh The Hope Kitchen, sebuah program katering yang dimulai oleh organisasi nirlaba untuk memberi perempuan pengungsi cara untuk mendapatkan kemandirian finansial. Layanan ini menawarkan masakan dari berbagai belahan dunia, termasuk Afghanistan dan Yordania, dan semua uang diberikan kepada para wanita yang menyiapkan makanan.

Nabila Abdallah Shoubaki, seorang pengungsi Palestina yang dimukimkan kembali di Texas Utara tahun lalu, mengaku senang menyaksikan ratusan orang menikmati beberapa makanan yang dia buat. Salah satu hidangan terbaiknya adalah ayam mandi, hidangan nasi tradisional Arab.

Shoubaki mengatakan program ini sangat membantu keluarganya. Organisasi itu juga membantu keluarganya membiayai pendidikan putranya yang berusia 20 tahun.

“The Hope Kitchen sangat indah. Jika ada keluarga atau kelompok yang membutuhkan makanan, mereka memanggil saya dan saya membuatnya untuk mereka," katanya.

Hiba Tanvir, anggota dewan Layanan Penjangkauan Pengungsi DFW, membantu memulai program katering serta program serupa yang disebut Butik Harapan yang memungkinkan wanita pengungsi menghasilkan uang dari menjual barang-barang kerajinan tangan seperti bantal dan pakaian.

Organisasi tersebut telah membantu keluarga pengungsi dari sejumlah negara, termasuk Afghanistan, Republik Demokratik Kongo, Irak dan Suriah, kata Tanvir. “Acara ini, bukan hanya kami berbicara tentang apa yang kami lakukan. Kami menunjukkan apa yang dapat dilakukan para wanita ini. Ini adalah momen besar," ujarnya. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement