Senin 24 Oct 2022 06:40 WIB

Ancaman Resesi 2023, Logistik Domestik Perlu Diperkuat

Penguatan terutama untuk mengurangi ketergantungan terhadap rantai pasok global.

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Friska Yolandha
Petugas membawa paket berisi vaksin Pfizer yang baru tiba dengan pesawat kargo My Indo Airlines di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, Aceh, Selasa (12/10/2021). Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi mengatakan salah satu upaya yang perlu dilakukan dalam menghadapi ancaman resesi 2023 adalah orientasi dan penguatan logistik domestik.
Foto: Antara/Irwansyah Putra
Petugas membawa paket berisi vaksin Pfizer yang baru tiba dengan pesawat kargo My Indo Airlines di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, Aceh, Selasa (12/10/2021). Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi mengatakan salah satu upaya yang perlu dilakukan dalam menghadapi ancaman resesi 2023 adalah orientasi dan penguatan logistik domestik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi mengatakan salah satu upaya yang perlu dilakukan dalam menghadapi ancaman resesi 2023 adalah orientasi dan penguatan logistik domestik. Khususunya penguatan logistik berdasarkan kekuatan potensi permintaan dan pasokan dalam negeri.

“Potensi permintaan tercermin dari jumlah penduduk Indonesia sebanyak 273,87 juta jiwa dan tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar 3,69 persen pada tahun 2021. Sementara, potensi pasokan berupa komoditas yang beragam di berbagai wilayah Indonesia,” kata Setijadi dalam pernyataan tertulisnya, Ahad (23/10/2022). 

Baca Juga

Setijadi menjelaskan, dalam mengantisipasi ancaman resesi 2023 harus dilakukan penguatan dan peningkatan efisiensi logistik dan rantai pasok. Terutama untuk mengurangi ketergantungan terhadap rantai pasok global.

“Ketergantungan ekspor dan impor dengan sejumlah negara harus dipertimbangkan sebagai antisipasi atas risiko resesi di beberapa negara mitra, terutama Cina sebagai mitra dagang terbesar Indonesia,” ujar Setijadi. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada September 2022, nilai ekspor non migas Indonesia ke China sebesar 6,16 miliar dolar AS atau 26,23 persen dari total ekspor non migas. Sementara impor dari China sebesar 5,69 miliar dolar AS atau 34,74 persen dari total impor nonmigas Indonesia.

“Ketergantungan ekspor-impor itu harus diwaspadai karena pertumbuhan ekonomi di Tiongkok beberapa waktu terakhir,” tutur Setijadi.

Dia menambahkan, antisipasi juga harus dilakukan mengingat impor terbesar Indonesia adalah bahan baku atau penolong. Dari nilai impor pada September 2022 sebesar 19,81 miliar dolar AS, 75,21 persen berupa bahan baku atau penolong, 16,76 persen barang modal, dan 8,03 persen barang konsumsi.

Setijadi mengatakan, dalam jangka panjang perlu dikembangkan rantai pasok beberapa produk dan komoditas dari hulu ke hilir untuk mengurangi ketergantungan impor. “Untuk industri farmasi, misalnya, sekitar 95 persen bahan baku berasal dari impor,” ucap Setijadi. 

Dia menegaskan, peningjatan efisiensi logistik dan rantai pasok akan berdampak terhadap penurunan harga produk dan komoditas yang sangat penting pada situasi resesi. Dalam perspektif global, lanjut dia. peningkatan daya saing produk dan komoditas berpotensi meningkatkan volume ekspor. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement