Jumat 30 Dec 2022 13:35 WIB

Mengenal Ensefalopati Hepatik, Kerusakan Otak yang Dipicu Penyakit Hati

Ensefalopati Hepatik mengakibatkan pasien mengalami gangguan kognitif.

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Dwi Murdaningsih
Hati manusia (Ilustrasi)
Foto: hepatitis.rs.ba
Hati manusia (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penderita penyakit perlemakan hati atau masalah hati lain memiliki risiko untuk mengalami ensefalopati hepatik. Kondisi ini bisa membuat pasien mengalami gangguan kognitif dan kebingungan yang berat serta kronis.

Secara umum, ensefalopati hepatik merupakan sebuah gangguan sistem saraf yang terjadi ketika toksin hati mencapai otak dan mempengaruhi fungsi otak. Semakin berat masalah hati yang terjadi, kondisi ensefalopati hepatik bisa semakin memburuk dan lebih sulit diobati.

Baca Juga

Ketika hati sudah mengalami kerusakan, episode perburukan otak bisa dipicu oleh beberapa hal. Sebagian di antaranya adalah dehidrasi, konsumsi terlalu banyak protein, kadar sodium dan kalium yang rendah, perdarahan lambung dan usus, infeksi, masalah ginjal, serta kadar oksigen rendah.

Menurut beberapa ahli, hampir 50 persen pasien dengan masalah sirosis akan menunjukkan gejala-gejala ensefalopati hepatik. Sirosis adalah tahap akhir dari penyakit hati yang ditandai dengan tergantinya jaringan sehat hati dengan jaringan parut.

Selain sirosis, orang-orang dengan penyakit perlemakan hati juga berisiko untuk terkena ensefalopati hepatik. Risiko ini semakin signifikan bila penyakit perlemakan hati yang mereka derita tak diobati.

Orang-orang yang mengalami ensefalopati hepatik akan menunjukkan gejala-gejala terkait penurunan fungsi otak. Sebagian dari gejala tersebut adalah serangan kecemasan, mudah marah, kebingungan, gangguan kognitif, dan masalah keseimbangan dan masalah koordinasi.

Selain itu, orang yang mengalami ensefalopati hepatik juga bisa menunjukkan gejala seperti sulit berkonsentrasi, memiliki rentang perhatian yang pendek, dan menunjukkan gerakan tangan seperti mengepak. Mereka juga dapat menunjukkan gejala berupa perubahan suasana hati yang cepat, otot berkedut, masalah tidur dan insomnia, serta bicara pelo.

Seperti dilansir Times Now News, ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh penderita penyakit hati untuk menekan risiko ensefalopati hepatik. Salah satunya adalah dengan menjalani terapi pengobatan untuk penyakit hati yang diderita.

Di samping itu, beberapa hal lain seperti berhenti mengonsumsi alkohol. Selain itu, menghindari kebiasaan menggunakan obat antinyeri atau antidepresan secara berlebih, menerapkan pola makan yang seimbang, dan menjaga berat badan yang sehat juga dapat membantu.

Upaya lain yang bisa dilakukan untuk menekan risiko ensefalopati hepatik adalah menghindari konsumsi makanan yang digoreng atau makanan ultra proses, menjalani vaksinasi hepatitis A dan B, serta menghindari konsumsi protein berlebih. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement