Ahad 01 Jan 2023 15:15 WIB

Polusi Udara Paksa Sekolah Libur di Iran

Kelas belajar di Iran dialihkan secara daring.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Friska Yolandha
Sebuah ruang kelas sekolah Syiah Hazara kosong di Kabul, Afghanistan, Minggu, 31 Juli 2022. PBB pada Minggu, 18 September 2022, menyerukan penguasa Taliban Afghanistan untuk membuka kembali sekolah untuk anak perempuan di kelas 7-12, menyerukan peringatan pengucilan mereka dari sekolah menengah
Foto: AP Photo/Ebrahim Noroozi
Sebuah ruang kelas sekolah Syiah Hazara kosong di Kabul, Afghanistan, Minggu, 31 Juli 2022. PBB pada Minggu, 18 September 2022, menyerukan penguasa Taliban Afghanistan untuk membuka kembali sekolah untuk anak perempuan di kelas 7-12, menyerukan peringatan pengucilan mereka dari sekolah menengah

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Kualitas udara yang memburuk dengan cepat di ibukota Iran, Teheran, dan kota-kota yang berdekatan telah memaksa pihak berwenang untuk memerintahkan penutupan sekolah pada Sabtu (31/12/2022). Kelas belajar pun dialihkan secara daring.

Komite Darurat Polusi Udara bertemu di Teheran pada Jumat (30/12/2022) dan memutuskan untuk menangguhkan pendidikan tatap muka di sekolah. Menurut laporan kantor berita pemerintah Iran IRNA, keputusan ini karena tingginya tingkat polusi udara di ibukota dan provinsi Alborz, Qazvin, Chaharmahal, dan Bakhtiari. Hari masuk sekolah di Iran adalah dari Sabtu sampai Rabu, dengan Kamis dan Jumat menjadi hari libur.

Baca Juga

Teheran dalam beberapa tahun terakhir muncul sebagai salah satu kota paling tercemar di dunia dengan kualitas udara yang buruk yang sering memaksa penutupan sekolah dan bisnis. Tahun ini, kualitas udara di ibu kota dan kota-kota besar lainnya mencatat penurunan yang mengkhawatirkan selama musim panas. Namun masalahnya mulai diperparah dengan dimulainya musim dingin.

Pada Juli, kualitas udara yang buruk memaksa penutupan semua lembaga pendidikan dan kantor pemerintah di Teheran dan kota-kota lain karena indeks kualitas udara dianggap tidak sehat untuk kelompok sensitif. Data Kementerian Kesehatan Iran dirilis bulan lalu merujuk pada kondisi Maret 2021-Maret 2022, jumlah kematian yang disebabkan oleh paparan jangka panjang terhadap partikel PM 2,5 melonjak lebih dari 87 persen dibandingkan periode yang sama selama periode tahun sebelumnya.

Studi dilakukan di 27 kota, termasuk Teheran, Ahvaz, Masyhad, Tabriz, Shiraz, Isfahan, dan Hamedan. Total populasi di kota-kota tersebut sebanyak 35 juta warga. Penurunan kualitas udara yang mengkhawatirkan pada 2022 telah disertai dengan badai pasir, yang sebagian besar berasal dari Irak dan Suriah. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement