Selasa 03 Jan 2023 20:59 WIB

Sri Mulyani Optimistis Pertumbuhan Ekonomi 2022 Capai 5,3 Persen

Pertumbuhan ekonomi Indonesia terutama didorong stabilnya tingkat konsumsi domestik.

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Fuji Pratiwi
Menteri Keuangan Sri Mulyani. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memperkirakan, pertumbuhan ekonomi nasional 2022 dapat mencapai targetnya pada kisaran 5,1 persen sampai 5,3 persen.
Foto: EPA-EFE/HOW HWEE YOUNG
Menteri Keuangan Sri Mulyani. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memperkirakan, pertumbuhan ekonomi nasional 2022 dapat mencapai targetnya pada kisaran 5,1 persen sampai 5,3 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memperkirakan, pertumbuhan ekonomi nasional 2022 dapat mencapai targetnya pada kisaran 5,1 persen sampai 5,3 persen. Meski di tengah dinamika perekonomian global yang sangat bergejolak.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, pertumbuhan itu sejalan dengan tren penguatan pemulihan ekonomi yang konsisten di atas lima persen dalam tiga kuartal pertama tahun lalu. Dia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia terutama didorong stabilnya tingkat konsumsi domestik.

Baca Juga

Kinerja perdagangan internasional Indonesia pun positif. Kinerja tersebut mencatatkan surplus neraca perdagangan dalam 31 bulan terakhir.

Lalu tingkat inflasi domestik pada 2022 bergerak moderat dan tetap terkendali di tengah tekanan lonjakan inflasi dunia akibat tingginya harga komoditas pangan dan energi. "Inflasi Indonesia mencapai 5,5 persen didukung kebijakan stabilisasi serta berfungsinya peran APBN sebagai shock absorber" ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers virtual, Selasa (3/1/2023).

Menurutnya, keberhasilan dalam menjaga pasokan dan distribusi kebutuhan pangan serta energi nasional, termasuk dari subsidi dan kompensasi energi dan pangan, berperan dalam menjaga tingkat inflasi, terutama inflasi harga pangan. Selain itu, rata-rata harga minyak Indonesia (ICP) pada 2022 mencapai 97 dolar AS per barel.

Kondisi ini, kata dia, terutama dipengaruhi eskalasi konflik geopolitik yang menyebabkan terjadinya gangguan rantai pasok komoditas energi dan pangan dunia. Hanya saja, tren ICP cenderung mengalami penurunan seiring proyeksi perlambatan perekonomian dunia yang berpengaruh terhadap penurunan harga minyak dunia.

"Kalau kita lihat dari situasi pelemahan global yang menjadi tren, kita di Indonesia di sisi lain harus bersyukur melihat momentum pemulihan ekonomi kita masih terjaga. Meskipun memang kita tidak sama sekali kebal atau dalam hal ini tidak terpengaruh dari suasana global, pasti ada pengaruhnya," tutur dia.

Hanya saja, lanjutnya, daya tahan perekonomian Indonesia tampak cukup baik, dengan pertumbuhan yang tetap terjaga. "Kita lihat di kuartal keempat ini, kondisi dari kegiatan ekonomi juga masih relatif baik. Ini tentu memberikan suatu optimisme kepada kita semuanya, ada kepercayaan diri, tapi kita hati-hati karena memang imbas dan gelombang gejolak dunia itu begitu sangat dahsyatnya," kata dia.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement