Rabu 04 Jan 2023 23:29 WIB

Melestarikan Warisan Maroko yang Terancam Punah, Minyak Argan yang Melegenda

Minyak argan merupakan salah satu warisan tak benda yang melegenda di Maroko

Rep: Mabruroh/ Red: Nashih Nashrullah
Ilustrasi minyak argan Maroko. Minyak argan merupakan salah satu warisan tak benda yang melegenda di Maroko
Foto: Antara
Ilustrasi minyak argan Maroko. Minyak argan merupakan salah satu warisan tak benda yang melegenda di Maroko

REPUBLIKA.CO.ID, RABAT — Minyak argan Maroko sangat dihargai oleh industri kosmetik. Sayangnya, produksi minyak argan dikerjakan para pekerja lanjut usia (lansia) sehingga Maroko sangat mengkhawatirkan keberlangsungan minyak tersebut. 

Selusin wanita duduk di lantai sebuah bengkel di pedalaman dari Essaouira, sebuah kota pelabuhan di pantai Atlantik Maroko. Mereka bekerja dengan sangat cekatan mengupas kacang argan, menghancurkannya dan mengekstrak minyak.

Baca Juga

Ini adalah kerajinan yang dihormati waktu dan padat karya, tetapi kehilangan minatnya dan dijauhi oleh generasi muda di kerajaan Afrika Utara. Sehingga para pekerjaanya, umumnya berusia di atas 60 tahun.

Para lansia itu secara manual memotong buah-buahan kuning kecil di Koperasi Marjana, sementara yang lain menggunakan palu untuk menghancurkan cangkang yang kuat dan menghilangkan kacang. 

Buah-buahan kemudian disortir, dipanggang, ditumbuk dan ditekan untuk mengambil minyaknya. Minyak tersebut dapat digunakan untuk memasak tetapi juga telah lama terkenal karena sifat pelembab dan anti-penuaan untuk kulit dan rambut.

"Ini pekerjaan yang sulit dan membutuhkan pengalaman dan, yang terpenting, kesabaran," kata Samira Chari (42) sebagai pekerja artisanal termuda Marjana, dilansir dari Arab News, Rabu (4/1/2023).

Pendiri koperasi, Amel El Hantatti mengatakan sifat fisik pekerjaan itu adalah salah satu alasan kaum muda tidak mengambil kerajinan ini lagi, meskipun kurangnya pekerjaan lokal. 

Lanskap daerah yang gersang adalah rumah bagi kebun argan yang luas. Wisatawan yang singgah untuk melihat proses produksi dan membeli produk argan disambut hangat oleh staf Marjana yang semuanya perempuan.

Argan sangat penting bagi wilayah antara kota Essaouira dan Agadir sehingga pada 1998 UNESCO mendeklarasikan cagar biosfer di daerah tersebut dan kemudian menambahkan budidaya pohon ke dalam daftar Warisan Budaya tak benda.

Minyak argan adalah sumber pendapatan utama di bagian Maroko selatan ini, di mana beberapa tanaman lain bertahan dari curah hujan rendah dan panas musim panas yang membakar.

Ini juga banyak digunakan dalam masakan Maroko dan telah disertifikasi dengan Appellation of Origin sejak 2010. 

Hantatti mendirikan koperasi tersebut pada 2005 dan mempekerjakan 80 wanita, beberapa bekerja di bidang produksi dan yang lainnya dalam penjualan.

Baca juga: Islam akan Jadi Agama Mayoritas di 13 Negara Eropa pada 2085, Ini Daftarnya 

Tetapi hari ini, ia mengaku benar-benar sangat takut bahwa produksi minyak argan artisanal akan menghilang. Karena pekerja koperasi yang lebih muda, lebih suka bekerja di toko suvenir, menjual sabun argan, sampo, dan pelembab dibanding bekerja di tempat produksinya langsung. 

“Saya mencoba bekerja beberapa hari dengan pengrajin wanita tetapi saya tidak dapat melanjutkan, ini adalah proses yang sulit dan sangat melelahkan,” kata Assia Chaker (25).

"Saya suka berhubungan dengan orang-orang dan berlatih bahasa lain dengan turis yang datang ke toko setiap hari, daripada menghabiskan sepanjang hari menghancurkan dan membuat bubur kacang argan,” ungkapnya. "Pokoknya suatu saat pekerjaan akan dilakukan oleh mesin," imbuhnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement