Selasa 17 Jan 2023 07:26 WIB

Kotak Hitam Yeti Airlines akan Diserahkan Kepada Penyelidik

Pesawat Yeti Airlines yang jatuh membawa 68 penumpang dan empat orang awak.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nidia Zuraya
Petugas penyelamat Nepal dan warga sipil berkumpul di sekitar reruntuhan pesawat penumpang yang jatuh di Pokhara, Nepal, Minggu, 15 Januari 2023. Pihak berwenang di Nepal mengatakan 68 orang telah dipastikan tewas setelah sebuah pesawat penumpang regional dengan 72 penumpang jatuh ke jurang. Ini adalah kecelakaan pesawat paling mematikan di negara itu dalam tiga dekade.
Foto: AP Photo/Krishna Mani Baral
Petugas penyelamat Nepal dan warga sipil berkumpul di sekitar reruntuhan pesawat penumpang yang jatuh di Pokhara, Nepal, Minggu, 15 Januari 2023. Pihak berwenang di Nepal mengatakan 68 orang telah dipastikan tewas setelah sebuah pesawat penumpang regional dengan 72 penumpang jatuh ke jurang. Ini adalah kecelakaan pesawat paling mematikan di negara itu dalam tiga dekade.

REPUBLIKA.CO.ID, POKHARA -- Tim penyelamat berhasil menemukan flight data recorder dan cockpit voice recorder atau yang biasa disebut kotak hitam dari pesawat Yeti Airlines yang jatuh di Nepal. Juru bicara otoritas setempat Jagannath Niraula, mengatakan, kotak hitam akan diserahkan kepada penyelidik.  

Juru bicara Yeti Airlines, Pemba Sherpa, membenarkan flight data recorder dan cockpit voice recorder telah ditemukan pada Senin (16/1/2023). Setidaknya 69 dari 72 orang yang ada di dalam pesawat tewas. Para pejabat meyakini tiga orang yang hilang juga tewas.  Tim penyelamat menyisir puing-puing pesawat yang tersebar di ngarai sedalam 300 meter untuk melakukan evakuasi korban.

Baca Juga

Sebagian besar penumpang dalam penerbangan Yeti Airlines yang jatuh pada Ahad (15/1/2023) hendak pulang kampung ke Pokhara. Kota ini juga populer di kalangan turis karena merupakan pintu gerbang ke jalur pendakian Sirkuit Annapurna.  

Sejauh ini, penyebab kecelakaan masih belum diketahui. Sebuah video rekaman detik-detik jatuhnya Yeti Airlines beredar  luas di media sosial. Rekaman video itu diambil salah satu penumpang Yeti Airlines yang diidentifikasi sebagai Sonu Jaiswal. Dia merekam video dari jendela saat pesawat hendak mendarat.

Dalam video itu terlihat bangunan, jalan, dan tanaman hijau di daratan. Video yang telah diverifikasi oleh The Associated Press itu kemudian menunjukkan sentakan keras, disertai teriakan sebelum api memenuhi layar.

Otoritas Penerbangan Sipil Nepal mengatakan, pesawat terakhir melakukan kontak dengan bandara dari dekat Ngarai Seti. Seorang saksi, Diwas Bohaora mengatakan, pesawat itu seperti pendaratan normal hingga tiba-tiba berbelok ke kiri. Bohora mengatakan, setelah pesawat jatuh, api merah meletus dan tanah berguncang keras.

"Saya melihatnya, dan saya kaget. Saya pikir hari ini semuanya akan selesai di sini setelah crash, saya juga akan mati. Melihat adegan itu, saya sangat takut," ujar Bohora.

Seorang pilot berpengalaman dan pendiri Yayasan Keselamatan India, Amit Singh, mengatakan, video yang direkam Bohora tampaknya menunjukkan situasi di mana pesawat kehilangan daya angkat, terutama pada kecepatan udara rendah. Pesawat ATR 72 bermesin ganda, yang dioperasikan Yeti Airlines Nepal terbang dari Kathmandu, ke Pokhara.

Pesawat membawa 68 penumpang, termasuk 15 warga negara asing, serta empat awak. Otoritas Penerbangan Sipil Nepal mengatakan, orang asing itu terdiri dari lima orang India, empat orang Rusia, dua orang Korea Selatan, dan masing-masing satu orang dari Irlandia, Australia, Argentina, dan Prancis.

Nepal adalah rumah bagi delapan dari 14 gunung tertinggi di dunia termasuk Gunung Everest. Seorang pilot yang secara rutin menerbangkan pesawat ATR 72-500 dari India ke Nepal mengatakan, topografi kawasan itu, dengan puncak gunung dan lembahnya yang sempit, meningkatkan risiko kecelakaan. Situasi ini terkadang mengharuskan pilot terbang dengan pandangan daripada mengandalkan instrumen.

Seorang pilot yang bekerja untuk maskapai penerbangan swasta India dan berbicara dengan syarat anonim menyebut, ATR 72-500 sebagai "pesawat yang tak kenal ampun", jika pilotnya tidak terlalu terampil dan terbiasa dengan medan serta kecepatan angin di kawasan itu.

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement