Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) jatuh pada Senin, 15 Juni 2026, hingga menyentuh titik terendah dalam tiga pekan terakhir. Penurunan dipicu oleh penguatan nilai tukar ringgit serta pelemahan harga minyak nabati pesaing di bursa Dalian (China) dan Chicago (AS).

Sentimen pasar juga terbebani oleh anjloknya harga minyak mentah dunia setelah adanya laporan kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik serta membuka kembali jalur pelayaran melalui Selat Hormuz.

Berdasarkan data penutupan BMD per 15 Juni 2026, kontrak berjangka CPO untuk Juni 2026 naik 19 Ringgit Malaysia menjadi 4.406 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Juli 2026 terkoreksi 23 Ringgit Malaysia menjadi 4.412 Ringgit Malaysia per ton.

Kontrak Agustus 2026 turun 24 Ringgit Malaysia menjadi 4.451 Ringgit Malaysia per ton, sedangkan kontrak September 2026 terpangkas 26 Ringgit Malaysia menjadi 4.485 Ringgit Malaysia per ton.

Untuk kontrak Oktober 2026 tercatat turun 29 Ringgit Malaysia menjadi 4.515 Ringgit Malaysia per ton, dan kontrak November 2026 melemah 24 Ringgit Malaysia menjadi 4.547 Ringgit Malaysia per ton.

Tarif Ekspor Dan Permintaan

Penetapan harga referensi CPO Malaysia untuk Juli yang turun menyebabkan tarif bea ekspor tetap di level 10%, sehingga langkah tersebut tidak banyak memberikan dukungan terhadap arus ekspor.

Meski demikian, pelemahan harga sebagian tertahan oleh perbaikan permintaan. Data lembaga survei kargo menunjukkan pengiriman minyak sawit pada periode 1–10 Juni meningkat sekitar 3,5% hingga 4,9% dibandingkan periode yang sama pada Mei.

Risiko cuaca juga disebut menahan penurunan, dengan peringatan pemerintah Malaysia bahwa fenomena El Niño berpotensi memangkas produksi sawit sebesar 8%–10% pada tahun ini.

Di India, pembeli terbesar minyak sawit dunia, impor minyak sawit pada Mei meningkat tipis dari posisi terendah empat bulan pada April. Namun volume impor masih berada di bawah level normal karena banyak perusahaan pengolahan memilih minyak kedelai yang lebih murah seiring menyempitnya premi harga minyak sawit.