Mantan wasit kenamaan Premier League, David Coote, resmi dijatuhi hukuman oleh Pengadilan Nottingham pada Kamis (8/1/2026) terkait kasus kepemilikan konten pornografi anak. Meski terbukti menyimpan video tak senonoh remaja berusia 15 tahun, pria berusia 43 tahun tersebut lolos dari hukuman penjara setelah hakim memberikan penangguhan sanksi.
Detail Putusan dan Kronologi Kasus David Coote
Berdasarkan laporan dari Sky Sports, David Coote ditangkap pada Oktober 2025 setelah penyelidikan intensif oleh Federasi Sepakbola Inggris (FA) dan kepolisian setempat. Penyelidik menemukan konten ilegal Kategori A dalam sebuah hard drive eksternal miliknya. Hakim Nirmal Shant KC menjatuhkan hukuman 9 bulan penjara yang ditangguhkan selama 2 tahun, membuat sang mantan wasit terhindar dari jeruji besi.
| Aspek Hukum | Detail Putusan & Statistik |
| Vonis Penjara | 9 Bulan (Ditangguhkan 2 Tahun) |
| Kerja Sosial | 150 Jam Tanpa Bayaran |
| Perintah Pencegahan | 10 Tahun Pencegahan Bahaya Seksual |
| Lokasi Sidang | Pengadilan Nottingham |
Kejatuhan Karier dan Masalah Kesehatan Mental
Dalam persidangan, terungkap bahwa David Coote mengalami masalah kesehatan mental yang diperparah oleh konsumsi kokain. Hakim menyoroti bahwa tindakan cabul tersebut terjadi di tengah kondisi psikologis yang tidak stabil setelah hubungan pribadinya berakhir. Pengacaranya, Laura Jane Miller, menyatakan bahwa kliennya merasa sangat malu dan menyesali perbuatannya yang telah mencoreng reputasi perwasitan Inggris.
Sebelum tersandung kasus kriminal ini, karier David Coote di kancah sepak bola profesional sudah hancur. Ia dipecat dari Premier League setelah video dirinya menghina mantan manajer Liverpool, Juergen Klopp, viral di media sosial. Tak hanya itu, ia juga terseret skandal penggunaan narkoba jenis sabu saat bertugas di ajang Piala Eropa 2024.
Implikasi Jangka Panjang bagi Dunia Perwasitan
Kasus ini mencoreng integritas korps wasit Inggris secara mendalam. Dengan kewajiban mengikuti program pencegahan bahaya seksual selama satu dekade, peluang David Coote untuk kembali ke dunia olahraga profesional praktis tertutup rapat. Fokus kini beralih pada bagaimana FA memperketat pengawasan terhadap kesehatan mental dan perilaku para pengadil lapangan di masa depan guna menjaga marwah kompetisi kasta tertinggi Inggris.






