Riset Henan Putihrai Sekuritas mencatat bahwa sejak 2000 pasar saham Indonesia telah melalui delapan siklus koreksi besar. Per 15 Juni 2026, siklus kedelapan membawa IHSG turun 41,72 persen dari puncaknya—menempatkannya sebagai koreksi ketiga terdalam dalam sejarah modern pasar modal Indonesia.

Meski tujuh siklus sebelumnya berakhir dengan return ke puncak lama dan pembentukan puncak baru, Henan menegaskan bahwa setiap siklus memiliki karakter tersendiri. Untuk menganalisis dinamika pasar, rumah riset itu membagi setiap koreksi menjadi empat fase teknis dan emosional yang konsisten muncul dalam catatan sejak tahun 2000.

Empat Fase Siklus Koreksi

Kerangka 4 fase yang dipakai Henan Putihrai adalah:

  • Descend (Peak → Trough) — Penurunan terkonfirmasi sampai titik terendah, ditandai tekanan jual yang mendominasi dan pantulan sementara yang sering menipu investor.
  • Trough (Basing & +10% Bounce) — Konsolidasi di dasar; fase ini dianggap berakhir saat IHSG menguat minimal 10 persen dari trough dan hampir selalu bisa dikenali secara retroaktif.
  • Normalization (50% Retrace) — Pemulihan parsial sampai IHSG menutup 50 persen dari jarak trough ke peak sebelumnya; fase yang kerap terlewat karena rasa takut belum hilang meski harga sudah naik.
  • Recovery (Full Peak) — Penguatan lanjutan sampai IHSG menyentuh kembali puncak sebelumnya; fase terpanjang dan paling menguji kesabaran.

Karakter Siklus 8

Berdasarkan data per 15 Juni 2026, Henan menyatakan Siklus 8 mencapai puncak pada 20 Januari 2026 di level 9.134,70. Fase Descend berlangsung sekitar 4,6 bulan dengan drawdown maksimum 41,72 persen. IHSG mencatat trough di level 5.324,14 pada 8 Juni 2026, kemudian melonjak +10,9 persen menjadi 5.902,38 dalam dua hari perdagangan—durasi vòng dasar yang tercatat sama cepatnya dengan GFC 2008 dan COVID-19 2020.

Satu keunikan pada Siklus 8: Bank Indonesia menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin saat koreksi berlangsung, langkah yang diarahkan untuk mempertahankan nilai rupiah, bukan mendorong pertumbuhan. Hal ini membuat katalis akhir fase Descend berbeda dari siklus sebelumnya; pendorongnya adalah habisnya tekanan jual setelah net foreign sell mencapai rekor tertinggi.

Apakah Pasar Sudah Memasuki Normalization?

Henan menegaskan bahwa dengan trough yang terkonfirmasi per 10 Juni 2026, fokus beralih dari seberapa jauh pasar bisa turun ke apa yang biasa terjadi setelah penurunan berakhir. Mereka menilai konfirmasi apakah pasar telah masuk fase Normalization masih bergantung pada perkembangan pasar berikutnya.

Target teknis untuk fase Normalization berada di level 7.229,42—sekitar 18,2 persen di atas pembukaan IHSG per 15 Juni 2026 pada 6.118,72. Berdasarkan pola koreksi struktural-domestik sebelumnya, durasi Normalization diperkirakan antara 3,9 hingga 7,0 bulan.

Katalis Yang Perlu Diperhatikan

Henan menyebut beberapa sinyal dan milestone penting untuk menentukan arah Siklus 8. Pertama, keputusan MSCI pada 18 Juni menjadi sinyal paling krusial terkait status Indonesia dalam alokasi modal global. Kedua, stabilisasi rupiah menuju kisaran Rp 15.000–16.000. Ketiga, perubahan arah suku bunga BI menuju pemangkasan, yang secara historis mendahului atau bersamaan dengan fase Recovery.

Menurut Henan, urutan ketiga sinyal tersebut penting karena merefleksikan kondisi struktural yang membedakan Siklus 8 dari siklus sebelumnya. Pilihan memangkas suku bunga dalam kondisi saat ini dianggap sulit karena berpotensi melemahkan rupiah lebih lanjut, sehingga katalis pemulihan harus datang dari faktor lain seperti pelemahan dolar AS atau resolusi struktural domestik yang meningkatkan kepercayaan modal asing.

Strategi Praktis Untuk Investor

Menjawab kondisi ketidakpastian, Henan merekomendasikan pendekatan barbell: sebagian portofolio dialokasikan ke instrumen yang relatif aman dan stabil, sementara sebagian lain disiapkan untuk menangkap peluang pemulihan saat arah pasar lebih jelas. Rumah riset itu juga mengingatkan pentingnya memperhatikan nilai tukar sebelum menilai pergerakan IHSG, karena investor asing membuat keputusan dalam dolar, bukan rupiah.

Henan menekankan penentuan jangka waktu investasi sesuai profil risiko. Investor jangka pendek tiga hingga enam bulan menghadapi ketidakpastian keputusan MSCI, sedangkan investor jangka panjang dua tahun ke atas memiliki ruang lebih besar untuk melewati berbagai skenario. “Sebelum memutuskan berapa banyak yang akan diinvestasikan, pastikan Anda sudah tahu dulu berapa lama Anda siap menunggu,” kata Henan.