Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas secara tajam pada akhir pekan ini setelah militer AS menuntaskan gelombang serangan balasan ketiga terhadap sejumlah sasaran di Iran. Menurut Komando Pusat AS (CENTCOM), serangan gelombang ketiga menghantam 140 sasaran militer di berbagai wilayah. Serangan tersebut memicu gelombang balasan yang meluas hingga menyeret negara-negara Teluk ke dalam pusaran ketegangan.

Dampaknya segera terasa di kawasan. Qatar mencegat sejumlah rudal, sementara Kuwait berupaya mempertahankan wilayah udaranya dari sasaran-sasaran yang disebut “bermusuhan”. Situasi ini menandai eskalasi paling serius sejak konflik pecah pada awal tahun.

Titik paling krusial dari krisis ini adalah Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi lalu lintas minyak dunia. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan Selat Hormuz telah ditutup, dan sebuah kapal dilaporkan dihantam rudal. Penutupan jalur strategis ini berpotensi mengganggu pasokan energi global dan mendorong lonjakan harga minyak dunia.

Ketegangan ini berakar pada kesepakatan yang gagal ditepati. Ketua Parlemen Iran sekaligus juru runding utama Teheran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menuding Washington tidak menghormati nota kesepahaman (MOU) yang ditandatangani kedua negara bulan lalu. Melalui unggahan di platform X pada hari Minggu, Ghalibaf menegaskan bahwa “era kesepakatan sepihak telah berakhir” dan memperingatkan agar AS menepati janjinya atau menanggung konsekuensinya. Ia turut menyertakan tangkapan layar teks MOU yang di dalamnya Iran berkomitmen mengatur jalur aman bagi pelayaran komersial di Selat Hormuz.

Sebaliknya, pihak AS menyatakan serangan gelombang ketiga merupakan respons atas serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial di selat tersebut. IRGC berdalih bahwa beberapa kapal menggunakan rute yang tidak disetujui dan mengabaikan peringatan. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyampaikan pernyataan keras, menyebut bahwa Iran telah membuat pilihan yang buruk dan kini harus menanggung akibatnya.

Konflik terbuka ini sebenarnya telah berlangsung berbulan-bulan. Presiden Donald Trump mengumumkan “operasi tempur besar” terhadap Iran pada 28 Februari, disertai serangan gabungan AS–Israel berskala besar yang menyasar situs militer, pemerintahan, dan infrastruktur. Delegasi kedua negara sempat memasuki meja perundingan bulan lalu untuk mengupayakan kesepakatan pengakhiran perang, namun serangan terbatas terus terjadi meski negosiasi masih berjalan.

Kekhawatiran juga menyelimuti ekonomi global. Dana Moneter Internasional (IMF) dalam proyeksi terbarunya mengasumsikan Selat Hormuz mulai dibuka kembali pada pertengahan Juli, dengan kondisi diperkirakan normal seperti sebelum perang pada Maret 2027. Namun perkembangan terbaru justru bergerak ke arah sebaliknya. IMF memperingatkan bahwa eskalasi baru dapat memicu kembali gejolak harga komoditas, memperketat kondisi keuangan, dan memperburuk kerawanan pangan di negara-negara berpenghasilan rendah.

Dengan penutupan Selat Hormuz dan meluasnya serangan ke negara-negara Teluk, komunitas internasional kini menghadapi risiko krisis yang jauh lebih besar. Perhatian dunia tertuju pada apakah kedua belah pihak dapat menahan diri dan kembali ke meja perundingan, atau justru terperosok lebih dalam ke dalam konflik regional yang berkepanjangan.