PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membukukan laba bersih bank only sebesar Rp 4,86 triliun pada Mei 2026, turun 1,73% secara month on month (mom). Akumulasi laba lima bulan pertama (5M26) tercatat Rp 25,68 triliun, naik tipis 2,07% year on year (yoy).

Dalam laporan keuangan yang dirilis Senin (15/6/2026) malam, manajemen menyatakan sebagian besar indikator keuangan masih berada dalam rentang target FY26, kecuali penyaluran kredit dan dampaknya terhadap margin bunga.

Kredit Tumbuh Lambat, NII dan NIM Tertekan

Hingga akhir Mei 2026, kredit BCA tercatat tumbuh 4,85% yoy menjadi Rp 969,09 triliun. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan rata-rata perbankan nasional pada periode yang sama.

Perlambatan penyaluran kredit berdampak pada pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang tercatat Rp 32,95 triliun, turun 0,50% yoy. Pendapatan bunga mencapai Rp 38,40 triliun, naik 0,30% yoy, sementara beban bunga meningkat 5,43% yoy menjadi Rp 5,45 triliun.

Margin bunga bersih (net interest margin/NIM) BCA berada di posisi 5,26% pada 5M26, sedikit di bawah panduan manajemen untuk FY26 sebesar 5,4–5,6%.

Penopang Laba: Pendapatan Fee dan Penurunan Biaya Provisi

Sumber kinerja laba pada 5M26 datang dari pendapatan provisi dan penurunan biaya provisi. Pendapatan komisi/fee tercatat Rp 8,44 triliun, naik 9,20% yoy.

Biaya provisi tercatat turun 13,64% yoy menjadi Rp 1,21 triliun, meneruskan tren penurunan selama lima bulan terakhir. Rasio cost of credit (CoC) terjaga rendah di 0,30% pada 5M26, berada di bawah asumsi perusahaan 0,4–0,5%.

Kinerja 5M26 menunjukkan pergeseran tekanan profitabilitas dari tingginya biaya provisi pada tahun lalu menuju tekanan penurunan margin bunga pada tahun ini. Tahun lalu, biaya provisi tumbuh signifikan sementara NIM relatif terjaga pada 5,65% dengan penyaluran kredit tumbuh 7,49% yoy.

Kredit Kendor, Tapi Getol Himpun Dana

Meski kredit melambat, BCA terus mengerek penghimpunan dana pihak ketiga (DPK). DPK tumbuh 8,80% yoy menjadi Rp 1.256,84 triliun hingga akhir Mei 2026.

Hampir semua instrumen DPK meningkat kecuali deposito. Giro tercatat Rp 444,32 triliun (+16,78% yoy), tabungan Rp 625,37 triliun (+7,81% yoy), sedangkan deposito turun menjadi Rp 187,13 triliun (-3,85% yoy).

Komposisi ini mendorong rasio dana murah (CASA) menguat ke 85,11%. Indikator likuiditas loan to deposit ratio (LDR) melebar menjadi 77,11%, terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Rasio profitabilitas lain seperti return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) pada 5M26 masih sesuai panduan manajemen. ROA tercatat 3,93% (di atas sasaran 3,5–3,7%), sedangkan ROE berada pada 23,23% (dalam guidance 21,5–23,5%).

Pada perdagangan Senin (15/6/2026), saham BBCA naik Rp 350 (5,9%) ke posisi Rp 6.275 dengan nilai perdagangan Rp 3,01 triliun untuk 4,8 juta lot. Meski menguat, saham ini masih turun 22,29% year to date dan 30,47% dalam satu tahun terakhir.