Pemerintah menyatakan menyiapkan paket stimulus bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, khususnya desil 1–4, sebagai langkah meredam dampak kenaikan harga bahan bakar minyak nonsubsidi seperti Pertamax.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan subsidi untuk Pertalite dan program biodiesel 50 (B50) tetap dipertahankan, sementara dukungan khusus dirancang untuk masyarakat menengah ke bawah yang dinilai rentan terhadap kenaikan harga BBM.
“Ya pertama kan BBM yang kita pertahankan kan jenis Pertalite dan B50. Terus kemudian kita siapkan yang untuk kelas menengah ke bawah, desil 4 ke bawah,” kata Airlangga usai rapat Dewan Pengawas Danantara di Wisma Danantara, Jakarta, Senin (15/6/2026).
Airlangga menegaskan bahwa bantuan kali ini akan difokuskan kepada kelompok masyarakat bawah, bukan kelas menengah. “Bukan yang di menengah tetapi yang di bawah,” ujarnya.
Rincian Kenaikan Harga BBM
PT Pertamina (Persero) menaikkan harga sejumlah BBM nonsubsidi mulai 10 Juni 2026. Harga Pertamax naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter. Pertamax Green 95 meningkat dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter, dan Pertamax Turbo naik dari Rp 12.750 menjadi Rp 20.750 per liter.
Alasan Stimulus dan Pengaruh ke Inflasi
Airlangga menyatakan kenaikan harga Pertamax berpotensi memberi tekanan pada inflasi secara keseluruhan sehingga pemberian stimulus seperti bantuan sosial dinilai perlu untuk menjaga daya beli masyarakat. Pemerintah berupaya memfokuskan bantuan pada segmen yang selama ini menjadi penerima bansos, yakni desil 1–4.
Ketua Komisi XI DPR, Mukhamad Misbakhun, sebelumnya juga menyampaikan pemerintah merumuskan stimulus untuk mengurangi dampak kenaikan harga Pertamax terhadap daya beli. Menurutnya, kenaikan BBM dapat mendorong inflasi karena memengaruhi biaya transportasi, distribusi barang, dan jasa.
“Pasti kalau kenaikan BBM biasanya selalu akan diikuti dengan kenaikan inflasi, pasti. Berapa persennya, nol sekian itu kita belum tahu,” ujar Misbakhun.
Ia menambahkan bahwa pengguna Pertamax perlu mendapat perhatian karena sebagian berada pada kelompok yang berdekatan dengan pengguna Pertalite. “Yang pasti biasanya masyarakat yang menggunakan Pertamax itu kan masyarakat-masyarakat yang berimpitan dengan Pertalite. Nah, kita ingin pastikan apa sih yang mereka butuhkan sebagai stimulus,” katanya.
Pemantauan Harga Minyak Dunia
Pemerintah juga terus memantau perkembangan harga minyak dunia seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Airlangga menyebut adanya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran berpeluang menekan harga minyak global.
Berdasarkan data yang dikutip pemerintah pada pukul 20.27 WIB, harga minyak mentah Brent tercatat sebesar US$ 83,27 per barel (-4,65%), sedangkan West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$ 80,52 per barel (-5,14%).
Airlangga memperkirakan harga minyak dunia masih berpeluang turun ke kisaran US$ 83 per barel, namun pemerintah memilih bersikap hati-hati sebelum mengambil langkah lanjutan terkait kebijakan energi. “Ya pertama tentu kita monitor karena harga minyaknya akan turun lagi ke sekitar US$ 83, tetapi kan semua ini baru selesai sudah ditandatangani. Jadi sebelum ditandatangani kita tetap konservatif,” kata Airlangga.
Ikuti Ihram.co.id
