Pemerintah menyatakan akan terus memantau perkembangan harga minyak dunia meski ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mereda. Sikap itu diambil sambil menunggu finalisasi formal atas kesepakatan yang dilaporkan tercapai antara kedua negara.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah tidak akan buru-buru menyesuaikan kebijakan karena proses finalisasi perjanjian masih berlangsung.

Perkembangan Harga Minyak

Berdasarkan data Oilprice pada pukul 20.57 WIB, harga minyak mentah Brent tercatat sebesar US$ 83,08 per barel, turun 4,87 persen. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$ 80,58 per barel, turun 5,07 persen.

Penurunan harga tersebut muncul setelah kabar mengenai tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran serta pembukaan kembali Selat Hormuz, yang sebelumnya menjadi salah satu faktor ketidakpastian di pasar energi global.

Sikap Pemerintah

Airlangga menegaskan pemerintah akan bersikap konservatif sampai kesepakatan benar-benar ditandatangani. “Ya pertama tentu kita monitor karena harga minyaknya akan turun lagi ke sekitar US$ 83, tetapi kan semua ini baru selesai sudah ditandatangani. Jadi sebelum ditandatangani kita tetap konservatif,” ujarnya usai rapat di Wisma Danantara, Jakarta, Senin (15/6/2026).

Menurut Airlangga, pergerakan harga minyak global menjadi perhatian karena berpengaruh terhadap kebijakan energi nasional, beban subsidi, serta kondisi fiskal negara.

Kondisi Internasional

Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa kesepakatan dengan Iran telah tercapai dan menyatakan pembukaan kembali Selat Hormuz serta pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

“Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah selesai,” tulis Trump melalui platform Truth Social.
“Selamat kepada semuanya! Dengan ini saya sepenuhnya mengizinkan pembukaan Selat Hormuz tanpa biaya tol, dan, bersamaan dengan itu, mengizinkan pencabutan segera blokade Angkatan Laut Amerika Serikat. Kapal-kapal di seluruh dunia, nyalakan mesin Anda. Biarkan minyak mengalir!”

Trump juga menyebut perjanjian itu berpotensi membawa stabilitas lebih besar bagi kawasan Timur Tengah. Kesepakatan ini disebut merupakan hasil negosiasi beberapa bulan dengan mediasi Pakistan dan dukungan sejumlah negara di kawasan. Penandatanganan resmi perjanjian dijadwalkan berlangsung di Swiss pada 19 Juni 2026.

Meski sentimen pasar membaik, pemerintah menilai ketidakpastian geopolitik belum sepenuhnya hilang dan memilih terus mencermati situasi global sebelum melakukan penyesuaian kebijakan yang berkaitan dengan energi maupun fiskal.