Sejumlah pengemudi ojek online mengatakan kenaikan harga BBM non-subsidi Pertamax belum mengubah kebiasaan bahan bakar mereka secara signifikan. Mayoritas tetap mengandalkan Pertalite untuk menekan biaya operasional di tengah persaingan ketat mendapatkan order.
Pengemudi ojol asal Depok, Abdulloh, menyatakan kenaikan harga Pertamax belum berdampak langsung karena dia masih memakai Pertalite sebagai bahan bakar utama. “Kenaikan Pertamax belum terlalu berdampak karena saya masih memakai Pertalite. Namun ke depannya pasti akan terasa juga,” ujarnya.
Dampak Langsung Terhadap Pilihan Bahan Bakar
Aziz, pengemudi ojol lain, mengaku beralih ke Pertalite setelah harga Pertamax naik. Dia menilai meski harus mengantre lebih lama, menggunakan Pertalite lebih ekonomis untuk menjaga pengeluaran harian.
“Setelah harga Pertamax naik, saya tidak sanggup lagi menggunakannya setiap hari. Akhirnya kembali pakai Pertalite,” kata Aziz.
Tekanan Pada Pendapatan Pengemudi
Beberapa pengemudi menilai tantangan terbesar bukan sekadar perubahan harga BBM, melainkan menjaga jumlah order agar tetap stabil. Pendapatan harian mitra bergantung pada volume pesanan yang diterima, sehingga pengendalian biaya bahan bakar menjadi salah satu strategi untuk mempertahankan penghasilan.
Perubahan Harga Pertamax
PT Pertamina Patra Niaga pada 10 Juni 2026 menaikkan harga Pertamax (RON 92) menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter. Sementara Pertamax Green 95 dinaikkan menjadi Rp17.000 per liter dari Rp12.900 per liter.
Meski demikian, para pengemudi berharap pemerintah dan perusahaan aplikator terus memberikan dukungan untuk menjaga kesejahteraan mitra pengemudi.
Ikuti Ihram.co.id
