Belgia dan Iran akan saling bertemu di SoFi Stadium, Los Angeles, pada Senin (22/6) pukul 02.00 WIB dengan beban mental yang jelas membayangi kedua tim. Tekanan itu muncul dari kegagalan masa lalu bagi Belgia dan dari urusan luar lapangan yang membayangi Iran.

Belgia dibayangi kegagalan di Piala Dunia 2022, sementara Iran terganggu oleh perlakuan tuan rumah yang membuat mereka harus bolak-balik Tijuana (Meksiko)–Los Angeles dalam waktu 24 jam, meski FIFA menjanjikan kedatangan dua hari lebih dulu. Federasi sepak bola Iran telah mengajukan keluhan resmi ke FIFA soal perlakuan tersebut.

Tekanan Di Balik Layar

Sikap otoritas setempat membuat Iran harus memindahkan base camp dari Tucson, Arizona, ke Tijuana dan melakukan perjalanan ekstra menjelang laga lawan Belgia. Ini menjadi pukulan psikologis kedua setelah situasi serupa pada laga pembuka melawan Selandia Baru.

Namun pada pertandingan pertama, Team Melli mampu mencuri satu poin lewat hasil imbang 2-2 melawan Selandia Baru meski kondisi mental dan fisik dinilai kurang prima.

Masalah Produktivitas Belgia

Kontras dengan tekanan Iran, masalah Belgia lebih pada produktivitas di lini depan. Pada babak kualifikasi, Belgia mencetak 29 gol dan memuncaki Grup J. Tetapi di laga pembuka Grup G melawan Mesir, mereka hanya beruntung mendapatkan satu gol bunuh diri dan gagal mengonversi 14 peluang, dua di antaranya tepat sasaran.

Kegagalan itu kembali mengangkat bayangan performa buruk di Qatar 2022, ketika Belgia hanya mampu satu kemenangan, satu seri, dan satu kekalahan dengan catatan gol yang minim. Rudi Garcia dianggap harus segera memperbaiki daya gedor tim, termasuk menimbang peran Romelu Lukaku dibanding Charles de Ketelaere sebagai starter.

Kekuatan Dan Kelemahan Iran

Iran menunjukkan ancaman di sektor sayap, terutama melalui bek kanan Ramin Rezaeian yang mencetak gol pertama dan mengkreasi gol kedua saat melawan Selandia Baru. Namun kelemahan tampak di lapangan tengah, di mana respons lambat gelandang seperti Saeid Ezatolahi dan Saman Ghoddos menghasilkan dua gol lawan.

Hal ini menuntut pelatih Amir Ghalenoei memperbaiki penutupan ruang di lini tengah sebelum menghadapi Belgia, yang di atas kertas memiliki pemain tengah lebih kuat seperti Youri Tielemans dan Amadou Onana.

Apa Yang Harus Dibenahi

Bagi Belgia, perhatian utama adalah menemukan kembali efektivitas di ujung serangan dan memaksimalkan peran pemain seperti Lukaku dan Jeremy Doku, yang masih menjadi motor serangan. Sejauh ini hanya bek Zeno Debast yang dipastikan absen karena cedera.

Untuk Iran, selain menangani tekanan di luar lapangan, fokus harus ditempatkan pada penutupan lubang di lini tengah agar tidak mudah dieksploitasi tim-tim Eropa yang kreatif dan cepat mengeksekusi peluang.

Taruhan Hasil Laga

Baik Belgia maupun Iran diperkirakan tak puas hanya meraih satu poin. Kemenangan pada laga ini dinilai penting sebagai modal dan suntikan kepercayaan diri untuk menghadapi pertandingan-pertandingan berikutnya di Grup G melawan Selandia Baru dan Mesir.