Tim gabungan kepolisian menempuh perjalanan darat ekstrem selama 14 jam untuk mencapai Kampung Atu Payung di Kabupaten Aceh Tengah, menyusul beredarnya informasi mengenai kondisi kesehatan seorang bayi pascabencana banjir bandang dan tanah longsor. Perjalanan ini dilakukan untuk memverifikasi kebenaran foto bayi yang disebut mengalami gangguan kesehatan di tengah keterbatasan akses medis.
Verifikasi Informasi dan Perjalanan Ekstrem
“Begitu informasi itu beredar, kami menurunkan tim ke lapangan untuk memastikan kondisi yang sebenarnya,” ujar Karo Penmas Divisi Humas Polri, Trunoyudo Wisnu Andiko, pada Kamis (1/1/2026). Tim gabungan, yang terdiri dari tenaga medis kepolisian, personel Brimob, dan unsur intelijen Polres Aceh Tengah, memulai perjalanan pada Rabu (31/12/2025) pagi sekitar pukul 07.10 WIB. Kedatangan mereka di Kampung Atu Payung merupakan respons atas perhatian publik terhadap kondisi bayi di wilayah yang terdampak bencana.
“Langkah ini dilakukan untuk memastikan informasi yang beredar sesuai dengan kondisi di lapangan, sekaligus memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat yang sulit dijangkau,” tambah Trunoyudo. Medan yang dilalui tim sangat berat, tertutup lumpur dan material longsor, memaksa mereka menggunakan sepeda motor hingga titik terakhir jalan yang bisa dilalui, sebelum melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Kondisi Bayi dan Layanan Kesehatan
Setelah menempuh perjalanan sejauh 54 kilometer selama 14 jam, tim medis akhirnya tiba di Kampung Atu Payung. Mereka segera melakukan pemeriksaan terhadap bayi berinisial RJ yang berusia 5 bulan. Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, bayi tersebut dinyatakan dalam kondisi sehat dan stabil. Orang tua bayi menjelaskan bahwa kemerahan pada kulit bayi disebabkan oleh cacar air yang diobati menggunakan air sirih, yang kemudian menimbulkan kekhawatiran.
“Hasil pemeriksaan menunjukkan bayi tidak mengalami kondisi gawat dan saat ini dalam keadaan stabil,” tegas Trunoyudo. Selain memeriksa kondisi bayi, tim kepolisian juga memberikan layanan kesehatan kepada warga di Kampung Jamur Koyel, Kampung Atu Payung, dan Kampung Serule, Kecamatan Bintang. Sejumlah keluhan kesehatan seperti hipertensi, gangguan pencernaan, asma, diare, alergi kulit, dan asam urat ditemukan. Dua anak juga teridentifikasi berindikasi stunting untuk ditindaklanjuti.
Kebutuhan Dasar dan Pemulihan Akses
Trunoyudo menyoroti bahwa kondisi kesehatan masyarakat pascabencana masih membutuhkan perhatian serius akibat keterbatasan akses layanan medis. Meskipun warga telah kembali ke rumah, kebutuhan dasar seperti listrik dan komunikasi belum sepenuhnya pulih, serta akses jalan masih terbatas. “Kondisi ini tentu menyulitkan proses pelaporan dan penanganan apabila terjadi keadaan darurat, sehingga diperlukan percepatan pemulihan akses dan koordinasi lintas pihak,” pungkasnya.






