Meredanya konflik antara Amerika Serikat dan Iran dipandang membuka peluang pengurangan tekanan terhadap anggaran subsidi energi pemerintah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan kondisi geopolitik yang membaik dapat menekan risiko lonjakan harga energi global.

Purbaya menyatakan penurunan kebutuhan subsidi memberi fleksibilitas lebih besar bagi pemerintah untuk mengalokasikan anggaran ke program prioritas nasional.

Antisipasi Anggaran Subsidi

Purbaya menjelaskan pemerintah sejak awal mengantisipasi potensi gejolak harga energi dengan mengalokasikan sebagian anggaran untuk subsidi.

— “Kan kemarin sebagian anggaran sudah kita sisihkan untuk subsidi,”

Ia menambahkan bahwa seiring meredanya ketegangan di Timur Tengah, kebutuhan anggaran subsidi energi diperkirakan menurun sehingga ruang fiskal dapat dimanfaatkan untuk pembiayaan program lain menurut prioritas presiden.

“Sehingga akan jauh berkurang (beban subsidi) dan ada ruang untuk memberi pembiayaan program-program lain yang dianggap penting oleh presiden. Jadi kita lihat seperti apa perkembangannya, kemudian baru kita sesuaikan,”

Data Realisasi Subsidi dan Harga Minyak

Purbaya melaporkan realisasi belanja subsidi dan kompensasi sampai 31 Mei 2026 sebesar Rp 203,7 triliun, atau setara 45,6% dari pagu APBN. Dari jumlah itu, belanja subsidi tercatat Rp 94,8 triliun dan belanja kompensasi Rp 108,9 triliun.

Dia menegaskan belanja subsidi dan kompensasi tetap menjadi instrumen penting untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah dinamika ekonomi.

“Belanja subsidi dan kompensasi dipastikan tetap bisa menjaga daya beli masyarakat,”

Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran disebut telah mencapai kesepakatan yang mengakhiri beberapa bulan konflik, yang pada gilirannya meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.

Meredanya risiko gangguan pasokan energi dinilai dapat membantu menjaga stabilitas harga minyak. Merujuk data Oilprice pada Selasa (16/6/2026) pukul 15.17 WIB, harga minyak mentah Brent turun 1,71% menjadi US$ 81,75 per barel, sementara WTI turun 1,86% menjadi US$ 79,25 per barel.