Pameran “Weaving Wonders, Dari Benang Tenun dan Lahan Semai Menuju Kekuatan Ekonomi, Ketahanan Pangan, dan Pemberdayaan Perempuan di Nusa Tenggara Timur” menempatkan perempuan sebagai pusat upaya pembangunan ekonomi restoratif di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Acara yang berlangsung di Tugu Kunstkring, Jakarta, 13–27 Juni 2026 itu menampilkan kerajinan tenun, kuliner, dan rumah adat NTT, sekaligus rangkaian kegiatan sharing, workshop, dan jejaring untuk memperkuat peran perempuan dalam ekonomi lokal.

Rangkaian Kegiatan dan Dialog

Pameran dilengkapi Dialog Kunstkring yang diinisiasi Yayasan Bambu Lingkungan Lestari dan Penabulu-Oxfam. Dialog menghadirkan diskusi panel bersama pemegang kebijakan, akademisi, praktisi, dan masyarakat adat.

Diskusi bertujuan menyusun peta jalan bersama terkait kedaulatan pangan, pariwisata berkesadaran, pemberdayaan perempuan, dan ekonomi restoratif.

“Pameran Weaving Wonders diharapkan menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan mulai dari pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, investor, maupun lembaga donor untuk mengeksplorasi kebijakan dan kemitraan yang mendorong peran perempuan dalam pembangunan ekonomi yang lebih tangguh, inklusif dan berkelanjutan,” ujar Yori Antar, pendiri Yayasan Uma Nusantara, inisiator pameran.

Tantangan Pengembangan Ekonomi Restoratif

Dua tantangan utama disebut menghambat pengembangan ekonomi restoratif di Indonesia: kesenjangan investasi dan kebijakan yang terbatas. Laporan Center of Economic and Law Studies (Celios) 2024 menyebut kebutuhan pembiayaan hingga 2045 mencapai Rp892 triliun untuk melaksanakan strategi tersebut secara efektif.

Karena itu, pameran dan dialog mendorong kolaborasi lintas pemangku kepentingan termasuk swasta, perusahaan sosial, komunitas, LSM, investor, donor, dan filantropi.

Data Sosial Ekonomi di NTT

NTT menjadi fokus pengembangan ekosistem ekonomi restoratif karena kondisi sosial ekonomi yang memerlukan intervensi. Tingkat kemiskinan tercatat 17,5% (BPS, Februari 2026), sementara prevalensi stunting berada pada 31,4%.

Isu lain yang disorot mencakup kekerasan terhadap perempuan dan anak serta human trafficking, di mana mayoritas korban adalah perempuan.

Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronica Tan, menyatakan, “Berbagai persoalan perempuan dan anak di NTT mulai dari kekerasan, pekerja anak, perkawinan anak, hingga stunting saling berkaitan dan berakar pada persoalan ekonomi. Masalah ini tidak bisa diselesaikan secara terpisah.”

Peran Perempuan Dalam Ekonomi Lokal

Survei GoodStats 2024 menunjukkan perempuan NTT menyumbang besar pada pendapatan rumah tangga, yakni 42,4%, melebihi rata-rata nasional 36,1%.

Program seperti agroforestri bambu (Mama Bambu) dan Kebun Pangan Perempuan (KPP) disebut sebagai wujud peran perempuan dalam pelestarian lingkungan, ketahanan pangan, dan peningkatan kesejahteraan keluarga.

“Kebun Pangan Perempuan menjadi pintu masuk strategis untuk memperkuat ketahanan ekonomi keluarga sekaligus meningkatkan posisi perempuan dalam pengambilan keputusan rumah tangga. Ini bukan sekadar program kebun, ini strategi penguatan perempuan dan keluarga dari desa. Ketika perempuan berdaya, ekonomi lokal tumbuh, pendapatan asli daerah meningkat, dan kesejahteraan masyarakat ikut terangkat,” ujar Veronica.

Pengakuan Hak Kelola dan Pemulihan Ekosistem

Pada Mei 2026 negara menyerahkan Surat Keputusan Perhutanan Sosial kepada enam kelompok tani hutan perempuan di NTT, dengan total lahan kelolaan 648 hektare.

Pemberian hak kelola ini dipandang sebagai langkah penting karena pengelolaan hutan yang diserahkan kepada perempuan masih jarang dari alokasi nasional seluas 12,7 juta hektare.

Dengan hak kelola, perempuan di NTT memimpin pemulihan ekosistem hutan sebagai ruang hidup, bukan semata sumber eksploitasi.

Dukungan Mitra Swasta

Pameran mendapatkan dukungan dari sejumlah mitra swasta, salah satunya Grup Astra, yang menampilkan karya dari Desa Sejahtera Astra dan Yayasan Astra.

“Astra meyakini bahwa budaya, kearifan lokal, dan pemberdayaan masyarakat merupakan aset penting yang perlu terus dijaga dan dikembangkan sebagai bagian dari pembangunan Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan untuk hari ini dan masa depan Indonesia,” kata Chief of Corporate Affairs Astra, Boy Kelana Soebroto.

Pameran dan rangkaian dialog diharapkan membuka ruang bagi kebijakan dan kemitraan yang memperkuat posisi perempuan NTT dalam pembangunan ekonomi restoratif.