Penderita diabetes tipe 2 disarankan menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL-C) hingga di bawah batas normal untuk mengurangi risiko komplikasi kardiovaskular. Penanganan yang hanya fokus pada pengendalian gula darah dinilai belum cukup tanpa manajemen lipid yang tepat.

Dalam simposium “Comprehensive Lipid Management in Patients with Type 2 Diabetes” pada rangkaian Pertemuan Ilmiah Tahunan Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) 2026, Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo menekankan prioritas menurunkan LDL-C pada pasien diabetes tipe 2 yang sering membawa faktor risiko kardiovaskular lainnya.

Target LDL-C Lebih Rendah Untuk Pasien Risiko Tinggi

Menurut Prof. Sidartawan, target LDL-C normal adalah 70 mg/dl. Namun bagi kelompok berisiko tinggi, termasuk penderita diabetes tipe 2, target yang disarankan lebih rendah: 55 mg/dl, bahkan hingga 40 mg/dl untuk pasien yang sudah memiliki penyakit kardiovaskular.

Dr. Wicak Prasetiadi, Head of Brand & Marketing Daewoong Pharmaceutical Indonesia, menyatakan bahwa banyak pasien di Indonesia belum mencapai target LDL-C tersebut. Ia menyoroti kebiasaan menilai hasil laboratorium bagus ketika kadar di bawah 100 mg/dl, padahal untuk pasien berisiko tinggi itu belum memadai.

Prevalensi Dislipidemia Pada Pasien Diabetes

Studi lokal menunjukkan dislipidemia sering menyertai diabetes tipe 2. Sebuah penelitian 2025 menemukan dislipidemia pada 74% dari 100 pasien diabetes tipe 2, sementara pada pasien yang juga menderita penyakit jantung koroner persentasenya mencapai 85% dari 40 kasus.

Data registri yang dikutip dalam simposium juga menunjukkan pencapaian target LDL-C sangat rendah: hanya 4,9% pasien berisiko tinggi yang mencapai LDL-C kurang dari 55 mg/dl, sedangkan 21,2% mencapai kurang dari 70 mg/dl.

Pendekatan Pengelolaan Lipid Yang Presisi

Prof. Da Hea Seo dari Inha University Hospital menyatakan bahwa risiko kardiovaskular residual pada pasien diabetes tidak sepenuhnya dijelaskan oleh kadar LDL-C saja. Resistensi insulin dapat mengubah karakter partikel LDL sehingga meningkatkan jumlah small dense LDL, yang bersifat lebih aterogenik.

Karena karakteristik partikel LDL yang berbeda, pasien dengan kadar LDL-C serupa bisa memiliki profil risiko kardiovaskular yang berbeda, sehingga diperlukan pendekatan pengelolaan lipid yang lebih presisi.

Terapi Kombinasi Sebagai Pilihan

Bagi pasien yang sulit mencapai target LDL-C dengan monoterapi, terapi kombinasi menjadi opsi yang direkomendasikan. Prof. Sidartawan menyebut kombinasi Ezetimibe dan Rosuvastatin sebagai strategi untuk menurunkan LDL-C lebih efektif.

Ezetimibe bekerja menghambat penyerapan kolesterol dari usus halus, sedangkan Rosuvastatin termasuk golongan statin yang menghambat produksi kolesterol di hati. Kombinasi ini menargetkan dua jalur berbeda sehingga efek penurunan LDL-C menjadi lebih optimal.

Upaya Industri Kesehatan

Seong-soo Park, CEO Daewoong Pharmaceutical, menyatakan komitmennya membangun kerja sama dengan komunitas medis Indonesia dan menghadirkan solusi terapi bagi pasien penyakit kronis. Ia menyebut rencana mendorong penelitian berbasis data klinis pasien dalam negeri untuk memperkuat bukti klinis yang relevan bagi pasien Asia.

Park menambahkan bahwa perusahaan akan memperkuat komunikasi dan kolaborasi antara tenaga medis Korea Selatan dan Indonesia untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Tanah Air.

“Pengelolaan dislipidemia pada pasien diabetes tipe 2 membutuhkan pendekatan komprehensif yang mencakup pengendalian LDL-C,” kata Prof. Da Hea Seo.