13 Rajab 1442

Islamofobia: Benarkah Islam Agama Damai?

Kamis , 01 Oct 2020, 13:36 WIB Reporter :Kiki Sakinah/ Redaktur : Muhammad Subarkah
Islam agama damai dan shalat menunjukan sikap kepasrahan dan ketakwaan.
Foto : goole.com
Islam agama damai dan shalat menunjukan sikap kepasrahan dan ketakwaan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sampai hari ini, terutama di Eropa dan masyarakat dengan budaya barat lainnya terus-menerus dijejali Islamofobia. Islam selalu dikatakan agama perang, agama teror, dan agama yang mengajarkan intoleran kepada pihak lain.

Dalam beberapa hari terakhir, fobia terhadap Islam sangat jelas. Di Swedia dan jerman muncul gerakan anti-Islam dengan menampilkan diri sebagai kaum yang suka bakar Alquran. Kata mereka menyebut Alquran adalah induk dari segala teror dan kekerasan.

Namun, segala tuduhan miring ini dibantah sendiri oleh seorang mualaf asal Inggris Daud Matthews. Dalam sebuah artikel yang ditulis di laman 'About Islam' pada hari ini (Kamis, 1/10) dia memberikan penjelasan Islam sebagai agama damai dan juga alasan mengapa Islam pantas menerima gelar ini dari pada agama lain.

Islam Is a Religion of Peace | United States Institute of PeaceMatthews sendiri merupakan mualaf yang memeluk Islam pada 1970. Pria Inggris kelahiran 1938 itu menikah di Pakistan pada 1973.

Matthews mempelajari fisika dan kemudian meraih gelar Chartered Engineer. Ia juga merupakan anggota dari British Computer Society dan Institute of Management.  Awalnya dia bekerja di laboratorium penelitian fisika, kemudian dia pindah ke manajemen komputer pada 1971.

Dia tinggal dan bekerja di Arab Saudi dari 1974 hingga 1997, pertama dengan Universitas Perminyakan dan Mineral di Dhahran, dan kemudian dengan Universitas Raja Saud di Riyadh. Ia terlibat dalam dakwah sejak 1986.

Dalam jawaban yang ia sampaikan, Matthews mengatakan bahwa setiap agama terdapat perbedaan dalam praktik para penganutnya, karena perbedaan yang digambarkan secara geografis atau budaya. Namun, untuk mempelajari agama, perlu untuk melihat kepada sumbernya. Dalam Islam, sumber tersebut adalah Alquran, yang merupakan firman Allah, dan Sunnah (ucapan dan praktik kebiasaan Nabi Muhammad SAW).

Menurutnya, kedua sumber tersebut harus dicari secara menyeluruh dengan pikiran terbuka hingga sampai pada pemahaman yang benar tanpa beban budaya. Para ulama Muslim telah mengklasifikasikan hadits-hadits Nabi SAW menjadi asli, kuat, lemah dan palsu. Dikatakannya, hanya hadits yang asli dan kuatlah yang dapat dikutip untuk putusan hukum.

"Jika kita melihat Alquran dengan pikiran terbuka, kita akan menemukan bahwa Islam adalah agama yang damai dan pengampunan serta semua nilai moral yang tinggi," kata Matthews.

Ia melanjutkan, bahwa pemahaman dasar Islam sebagai agama adalah perdamaian. Menurut terminologi Alquran dan bahasa khususnya, kata 'percaya' (Aaman) memiliki dua arti tergantung pada konteks penggunaannya: Anda dapat percaya (Aamana be…) atau Anda percaya atau mempercayai orang lain (Aamana le ... ).

Selain itu, karena pemahaman kepercayaan (Barat) yang biasa menyiratkan beberapa elemen keraguan, pemahaman Islam tentang Aaman berkaitan dengan kepastian atau tingkat kepastian, kebalikannya adalah ketidakpastian daripada keraguan.

Makna pertama (untuk percaya) terkait dengan iman seperti dinyatakan dalam Alquran surah 2:285:

"Rasul telah beriman kepada Alquran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat".

Dengan demikian, kata 'percaya' berarti memiliki iman yang mengakar dalam hati tentang hubungan antara manusia dan Tuhan. Sedangkan makna kedua dari "percaya atau mempercayai orang lain' mengacu pada hubungan dengan orang. Hubungan ini menyiratkan bahwa ketika seseorang aman dan terjamin, maka orang-orang mempercayainya. Alquran menyebut orang-orang seperti itu sebagai orang beriman karena mereka dapat dipercaya oleh masyarakat.

Makna ini diulangi dalam Alquran terutama tentang para Nabi. Misalnya, tentang Nabi Nuh. "Mereka berkata, "apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" (QS. 26:111).

Itu bermakna, bagaimana kami akan percaya pada Anda, percaya dan merasa aman dengan Anda, ketika yang paling kejam (terendah) yang mengikutimu?. Menurut Matthews, arti dari 'percaya' itu, yakni mempercayai seseorang (atau tidak). Hal demikian juga seperti tersirat dalam Alquran surah 6:82 untuk Nabi Ibrahim, QS 12:17 untuk Yusuf, Nabi Musa (QS 44:21 dan 23:47), dan juga untuk Nabi Muhammad SAW (QS 2:104 dan 9:61).

Dua makna dari "percaya" ditemukan dalam Alquran surah 9:61, di mana Allah berfirman: "Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan: "Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya". Katakanlah: "Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu". Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih."

Matthews menjelaskan, ini adalah contoh dari percaya (yakin) dan memiliki keyakinan (kepercayaan). Ayat ini menunjukkan percaya pada Tuhan adalah menyembah Dia dan percaya pada orang lain adalah mempercayai mereka.

"Karena ekspresi luar dari iman adalah hubungan dengan orang lain, kita harus hidup dalam kepercayaan, keselamatan, keamanan dan kedamaian: dan inilah yang harus menjadi perhatian kita masing-masing," lanjut Matthews.

Sementara itu, ia mengatakan bahwa ekspresi batin dari iman adalah apa yang sebenarnya diyakini seseorang. Bagi seorang Muslim, percaya kepada Tuhan berarti mengakui Tuhan adalah satu-satunya Tuhan. Sementara evaluasi atas kebenaran yang diyakini umat Muslim ini akan dipertanggungjawabkan di Hari Kiamat kelak oleh Allah SWT.

Matthews menegaskan, bahwa keyakinan pada Islam setara dengan perdamaian di antara manusia. Pada saat yang sama, menjadi orang beriman berarti hamba Allah dan orang yang damai dan dipercaya.

Demikian pula kata 'Islam' dapat ditunjukkan memiliki dimensi batin tentang hubungan dengan Tuhan dan dimensi luar tentang hubungan dengan manusia. Menurutnya, dimensi batin adalah konsekuensi alami dari secara sukarela menyerahkan diri pada perintah Tuhan (QS. 6:161-163).

Dalam Islam, semua Nabi Allah datang dengan pesan yang sama, yakni sembahlah Satu Tuhan dan ikuti teladannya, yang berpuncak pada wahyu terakhir (Alquran) sampai Nabi terakhir (Muhammad SAW). Dalam Alquran surah 3:19) disebutkan, bahwa agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam.

 6:127.

Matthews menambahkan, bahwa kedamaian dan keamanan dalam berurusan dengan orang lain ditambah dengan ketundukan untuk percaya pada Tuhan Yang Esa mengarah pada perdamaian dan keamanan di syurga. Sayangnya, kata dia, di sisi lain ada pelanggaran, penindasan dan ketidakadilan yang dilakukan dan ditimpakan pada orang lain yang merupakan jalan menuju Neraka.

Matthews lantas menunjukkan pada orang-orang yang membunuh orang yang tidak bersalah atas nama Tuhan. Menurutnya, tindakan teroris agama berarti membunuh nilai-nilai nyata dari agama yang dia anut. (Kiki Sakinah)