Sosok: Abdul Abdul Karim Oei (Habis)

Kamis , 15 Jul 2021, 07:45 WIB Reporter :Hazanul Riqza/ Redaktur : Agung Sasongko
Jamaah memasuki area Masjid Lautze 2  menjelang pelaksanaan ibadah shalat Jumat di Jl Tamblong, Bandung, Jumat (16/10). Setelah Pembatasan Sosial Berskala Besar pertama di Kota Bandung dibuka kembali masjid ini kembali melayani shalat Jumat dengan menerapkan protokol kesehatan.Selain ibadah rutin, masjid ini memberikan bimbingan rutin kepada mualaf yang kebanyakan berasal dari etnis tionghoa.
Jamaah memasuki area Masjid Lautze 2 menjelang pelaksanaan ibadah shalat Jumat di Jl Tamblong, Bandung, Jumat (16/10). Setelah Pembatasan Sosial Berskala Besar pertama di Kota Bandung dibuka kembali masjid ini kembali melayani shalat Jumat dengan menerapkan protokol kesehatan.Selain ibadah rutin, masjid ini memberikan bimbingan rutin kepada mualaf yang kebanyakan berasal dari etnis tionghoa.

IHRAM.CO.ID,  Pada masa revolusi, Belanda tidak terus-menerus memborbardir Indonesia dengan peluru. Ada kalanya Negeri Tanah Rendah bersedia berunding dengan Pemerintah RI. Pada masa gencatan senjata itu, daerah-daerah mengalami dinamika. Sebab, sekelompok tokoh Belanda ingin Indonesia menjadi negara federal, bukan negara kesatuan.

 

Terkait

Di Bengkulu, upaya Belanda tak surut pula. Sebagai tokoh setempat, Abdul Karim Oei Tjeng Hien selalu berjuang pantang menyerah. Pada masa tenang ini, dia keluar dari tempat persembunyiansebelumnya, Oei diburu pasukan Belanda dalam agresi militer di Bengkulu.

Baca Juga

Suatu hari, ia didatangi seorang anggota Partai Masyumi yang memintanya untuk hadir segera ke ruang rapat di pusat Kota Bengkulu. Karena minimnya sarana komunikasi, Oei sebelumnya tidak mengetahui ada rapat yang diinisiasi kalangan Belanda pro republik federal di kota tersebut meskipun dirinya adalah ketua Partai Masyumi cabang Bengkulu.

Di ruang rapat, Muslim berdarah Tionghoa ini dengan tegas menolak pembentukan Negara Federal Bengkulu. Ia menyerukan hadirin untuk selalu mematuhi instruksi pemerintah pusat, yakni Dwi Tunggal Sukarno-Hatta. Jangan mau diperdaya Belanda. Sikapnya lantas diikuti seluruh anggota maupun pimpinan Masyumi setempat.