KH Ahmad Rifai Arief, Ulama Santun Pendidik Umat (I)

Rabu , 25 Aug 2021, 20:02 WIB Redaktur : Agung Sasongko
Pondok Pesantren Daar el-Qolam di Gintung, Jayanti, Tangerang, Banten.
Pondok Pesantren Daar el-Qolam di Gintung, Jayanti, Tangerang, Banten.

IHRAM.CO.ID, Ahmad Rifa'i Arief merupakan putra sulung dari pasangan Haji Qasad Mansyur bin Markai Mansyur dan Hajjah Hindun Masthufah binti Rubama. Di Kampung Pasir Gintung, Jayanti, Tangerang, Haji Qasad dikenal sebagai seorang mubaligh. Sehari-hari, suami Hj Hindun itu bekerja selaku guru agama Islam di Madrasah Ibtidaiyah Masyariqul Anwar. Dengan latar keluarga demikian, Ahmad sejak kecil tumbuh dalam lingkungan yang islami.

 

Terkait

Di rumahnya, ia lebih sering dipanggil dengan sapaan sayang, Lilip. Kelak ketika dewasa, masyarakat setempat pun memanggilnya dengan sebutan itu, yakni Abah Lilip. Ia memiliki tiga orang adik laki-laki serta empat orang adik perem puan. Secara berturut-turut, seluruh adiknya adalah Umrah, Dhofiah, Farihah, Huwaenah, Ahmad Syahiduddin, Nahrul Ilmi Arief, dan Odhi Rosikhuddin. Di mata mereka, ia merupakan sosok teladan.

Baca Juga

Pendidikan dasar ditempuhnya di Sekolah Rakyat (SR) Kampung Sumur Bandung, Balaraja nama Jayanti tempo dulu. Proses belajar di SR tersebut dijalaninya hanya selama tiga tahun. Sebab, ayahnya kemudian memindahkannya ke MI Masyariqul Anwar. Mungkin, alasan kepindahannya itu agar Rifa'i kecil dapat langsung diajarkannya, terutama dalam hal pendidikan agama Islam. Bagaimanapun, Haji Qasad sendiri menginginkan supaya putranya itu mendapatkan bimbingan dari KH Syihabudin Makmun, seorang dai terkemuka yang masih berkerabat dengannya.

Pada 1958, Rifa'i akhirnya lulus dari MI tersebut. Ayahnya ingin agar dirinya meneruskan studi di lembaga pendidikan Islam yang bercorak modern. Mau tidak mau, keinginan ini berarti merantau. Sebab, di Banten saat itu belum ada pesantren yang menawarkan cara belajar modern. Berdasarkan informasi yang diterimanya, Haji Qasad pun mendaftarkan anaknya itu ke Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur. Kurikulum yang dipakai tidak hanya menyajikan ilmu-ilmu agama, tetapi juga umum kepada para santri.