Perpustakaan Terbuka di Gunung Ikmah Al Ula Arab Saudi

Jumat , 22 Oct 2021, 20:28 WIB Reporter :Idealisa Masyrafina/ Redaktur : Nashih Nashrullah
Gunung Ikmah Al Ula menjadi rute perdagangan Arab kuno.
Gunung Ikmah Al Ula menjadi rute perdagangan Arab kuno.

IHRAM.CO.ID, AL ULA – Bayangkan melangkah mundur ke masa sebelum ponsel, email, atau bahkan kertas. Selama era ini, mendokumentasikan momen-momen penting disederhanakan menjadi membuat sketsa di atas batu.

 

Terkait

Ini adalah Gunung Ikmah, atau 'perpustakaan terbuka' seperti yang disebut penduduk setempat Al Ula. 

Baca Juga

Al Ula menjadi sorotan pada rute perdagangan yang dilalui banyak orang melalui Jazirah Arab. 

Wisatawan berhenti di gunung untuk mendokumentasikan cerita mereka atau mengukir nama mereka untuk orang-orang yang datang setelah mereka.

"Kami menyebut Ikmah sebagai 'perpustakaan terbuka'. Jika Anda ingin tahu mengapa nama itu dinamai demikian, lihatlah sekitar selama beberapa detik dan Anda akan melihat prasasti di seluruh gunung itu," kata Amal Aljahani, seorang ahli pendongeng Rawi, dilansir di Arab News, Jumat (22/10).

Ikmah memiliki lebih dari 500 prasasti dari peradaban Dadan dan Lihyan. Teks-teks paling awal dari gunung telah dipelajari dan diterjemahkan sejarawan dan arkeolog dan berasal dari abad kesembilan dan ke-10 SM.

Bahasa-bahasa di gunung ini termasuk bahasa Aram, Thamudic, Dadanitic, Minaen, Nabatean, Yunani, Latin, dan Arab. Daerah penting bagi sejarawan, pakar linguistik Arab, dan arkeolog, gunung ini menawarkan pandangan kembali ke era pra-Arab.

Turis dari Kerajaan dan pengunjung internasional berkumpul selama berjam-jam untuk duduk di depan puncak yang tinggi dan mengamati teknik halus dari bahasa kuno yang berubah menjadi huruf Arab modern yang kita kenal sekarang.

Beberapa prasasti ditulis oleh juru tulis profesional di kawasan itu, sementara yang lain hanyalah sketsa oleh para pelancong dan penduduk setempat yang lewat bertahun-tahun yang lalu.

Banyak dari pesan-pesan ini berbeda maknanya, beberapa prasasti yang masih ada adalah nama-nama yang ditulis dalam teks Arab kuno, tetapi banyak yang melibatkan kisah-kisah tentang peristiwa yang sedang berlangsung dari masyarakat setempat. 

Prasasti-prasasti ini menggambarkan raja-raja yang memerintah negeri itu, kepercayaan agama masyarakat, dan terkadang catatan untuk pengunjung lain.

Ikmah menempati tempat yang tinggi di hati penduduk setempat dan wisatawan. Itu adalah tempat suci untuk penyembahan dan pengorbanan pagan bersama dengan dokumentasi.

Salah satu prasasti di gunung itu ditulis oleh seorang wanita bernama "Mirwa," yang mengukir namanya di bebatuan dan merinci persembahan yang dia buat untuk dewanya.

"Wanita itu biasa datang ke sini dan memberikan persembahan dewa untuk memberkati dia dan anak-anaknya. Prasasti itu mengatakan dewa memberkati dia dan anak-anaknya. Itulah yang ditulis orang-orang di sini di gunung yang indah ini," kata Aljahani.

Mirwa kembali menambahkan prasasti lain bahwa doanya dikabulkan dan putra-putranya diberkati. Beberapa prasasti ini bersifat pribadi, sementara yang lain adalah nama atau gambar binatang dan alat musik.

Prasasti tertua di era Islam, dikenal sebagai Naqsh Zuhayr, dan kilasan paling awal ke dalam bahasa Arab didokumentasikan di sisi timur. Prasasti tersebut berasal dari tahun 644 M.

"Gunung ini memiliki metode prasasti yang berbeda, seperti mengukir di dalam alfabet agar lebih jelas," kata Aljahani.

"Cara kedua adalah apa yang kita sebut cara 3D. Ini adalah metode yang paling sulit. Mereka diukir dengan indah di antara huruf-huruf alfabet menggunakan batu pasir agar pesannya lebih jelas," tambahnya.

Pada 2017, Komisi Kerajaan Al Ula menutup gunung tersebut untuk memulai persiapan kunjungan masyarakat. Ikmah kini disiapkan dan terbuka untuk umum di bawah pengawasan komite.   

 

Sumber: arabnews

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini