PT Darma Henwa Tbk mempertimbangkan melepas saham anak usaha ke publik sebagai salah satu alternatif pendanaan untuk pengembangan proyek tambang emas Gayo di Aceh.

Keputusan akhir terkait opsi tersebut akan ditetapkan setelah seluruh proses eksplorasi selesai pada 2027 dan kebutuhan investasi proyek telah diketahui secara rinci.

Direktur Darma Henwa, Ricardo Silaen, menjelaskan proyek yang dijalankan lewat anak usaha PT Gayo Mineral Resources masih dalam tahap eksplorasi yang terbagi dalam tiga fase. Tahap pertama telah rampung, tahap kedua berupa kegiatan drilling sedang berjalan, dan tahap ketiga ditargetkan selesai pada akhir 2027 sebelum memasuki fase pengembangan menuju operasi komersial.

“Untuk Gayo saat ini kami sedang jalankan. Itu dibagi dalam tiga tahap. Tahap satu sudah selesai, kemudian tahap dua drilling sedang berjalan, dan tahap tiga akan kami selesaikan sampai akhir 2027,” kata Ricardo usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan DEWA di Jakarta.

Skema Pendanaan Masih Dibuka

Setelah eksplorasi final, perseroan akan menghitung kebutuhan investasi dan menentukan skema pendanaan yang paling optimal. Ricardo menyebut seluruh opsi masih terbuka, termasuk rights issue maupun penawaran umum perdana saham anak usaha.

“Opsi masih terbuka. Rights issue maupun IPO adalah salah satu yang memang kami pertimbangkan, tapi belum ada keputusan. Itu tergantung hasil eksplorasi,” ujarnya.

Ricardo menambahkan kemungkinan menjual saham anak usaha ke publik tidak ditutup jika dianggap menjadi alternatif terbaik untuk membiayai pengembangan proyek.

“Kemungkinan itu tidak tertutup. Kami akan melihat metode pendanaan yang paling ideal dan paling menarik untuk mendanai proyek ini,” tambahnya.

Estimasi Investasi Menunggu Hasil Eksplorasi

Hingga saat ini perseroan belum mengungkapkan nilai investasi proyek karena besaran cadangan emas masih menunggu hasil eksplorasi. Ricardo juga menyatakan dana yang diperoleh perseroan tahun lalu tidak dialokasikan untuk proyek Gayo, melainkan untuk mendukung proyek pertambangan yang telah berjalan.

Meski demikian, Ricardo optimistis proyek Gayo menawarkan prospek menjanjikan. Selain dipengaruhi oleh tren harga emas global, proyek ini diharapkan menjadi sumber pertumbuhan baru bagi Darma Henwa di luar bisnis jasa kontraktor pertambangan.

“Kalau melihat proyek ini potensinya besar. Memang saya belum bisa mengatakan sebesar apa karena eksplorasi belum selesai. Tapi proyek ini sangat menarik untuk dikembangkan,” kata Ricardo.

Temuan Awal dan Konsolidasi Aset

Perseroan telah mengidentifikasi sekitar sembilan titik prospek mineralisasi emas pada konsesi seluas sekitar 34.500 hektare di Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Saat ini eksplorasi difokuskan pada satu titik untuk meningkatkan tingkat keyakinan terhadap potensi cadangan melalui kegiatan drilling dan eksplorasi lanjutan.

Menurut Ricardo, tahap pertama eksplorasi telah menjadi dasar penilaian aset oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP), sementara tahap kedua dan ketiga masih berlangsung.

Aset tambang emas tersebut telah dikonsolidasikan ke laporan keuangan Darma Henwa setelah memperoleh persetujuan pemerintah, yang menghasilkan keuntungan akuntansi berupa negative goodwill sebesar Rp 4,3 triliun.

Ricardo menjelaskan karakteristik bisnis tambang emas berbeda dari jasa kontraktor yang selama ini menjadi tulang punggung perseroan, karena sebagai pemilik aset tambang, Darma Henwa berpotensi meraih margin usaha lebih tinggi saat proyek beroperasi.

“Kalau melihat volume cadangan yang kami optimistis, ini akan sangat signifikan untuk pertumbuhan jangka menengah maupun jangka panjang,” ujarnya.

Proyeksi Waktu Pengoperasian

Perseroan memperkirakan hasil akhir eksplorasi akan memberi kepastian mengenai besaran investasi, kapasitas produksi, dan skema pengembangan proyek. Jika seluruh proses berjalan sesuai rencana, tambang emas Gayo diproyeksikan memasuki tahap operasi komersial pada 2029 hingga 2030.