Industri komponen otomotif Indonesia dinilai menunjukkan daya tahan yang kuat sekaligus semakin kokoh sebagai bagian dari rantai pasok global. Kondisi ini ditopang oleh kenaikan ekspor, terjaganya kapasitas produksi, serta dukungan kebijakan pemerintah.
Data asosiasi menyebutkan pertumbuhan industri otomotif roda empat dan stabilitas pasar roda dua turut menjaga kelangsungan produksi komponen, sementara pemerintah mendorong transformasi menuju kendaraan rendah emisi dan peningkatan kandungan lokal.
Kinerja Dan Ekspor
Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM) Rachmat Basuki mengatakan, berdasarkan data GIAMM, hingga kuartal I-2026 industri otomotif roda empat tumbuh 14% secara tahunan (year on year). Kinerja tersebut membantu industri komponen mempertahankan kapasitas produksinya.
Menurut catatan GIAMM, pada 2025 industri komponen otomotif Indonesia mengekspor produk ke lebih dari 100 negara dengan nilai melampaui US$ 7 miliar. Pasar ekspor utama meliputi Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, dan kawasan ASEAN.
Dukungan Pemerintah Dan Transformasi Industri
Rachmat menyebut pembinaan dari Kementerian Perindustrian melalui berbagai program, termasuk implementasi Industri 4.0, berkontribusi pada peningkatan produktivitas pabrik. “Berbagai pelatihan yang diberikan turut membantu industri beradaptasi dengan tuntutan manufaktur modern,” kata dia.
Stimulus untuk industri kendaraan bermotor disebut turut menjaga permintaan domestik. Rachmat menjelaskan pasar dalam negeri yang kuat menjadi fondasi penting untuk menciptakan skala ekonomi sebelum industri bersaing di pasar ekspor. “Dengan naiknya industri roda empat ini, otomatis supply komponennya akan tetap jalan. Hal-hal seperti itu juga penting,” ujarnya.
Pemerintah terus mendorong transformasi menuju kendaraan rendah emisi melalui program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) untuk semua lini, mulai dari ICE hingga BEV, serta menargetkan peningkatan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) hingga 80% secara bertahap. “Pemerintah selalu nge-trigger kita dengan peraturan-peraturan supaya kita bisa masuk ke arah global supply chain,” tambah Rachmat.
Tantangan Yang Dihadapi Industri
Wakil Presiden Direktur Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam mengatakan industri komponen menghadapi tekanan karena merupakan sektor padat modal dan padat karya. “Kenaikan upah, biaya energi, serta kebutuhan investasi untuk memodernisasi fasilitas produksi menjadi tantangan yang harus dihadapi pelaku usaha,” ujarnya.
Bob menilai industri komponen konvensional (internal combustion engine/ICE) masih membutuhkan kepastian arah kebijakan pemerintah. Ia menyebut insentif saat ini lebih banyak diberikan kepada kendaraan listrik, sementara ekosistem komponen kendaraan listrik sebagian besar masih berada di luar Indonesia.
Menurutnya, pembaruan teknologi dan modernisasi peralatan produksi menjadi kebutuhan agar industri tetap kompetitif di tengah persaingan global.
Isu Relokasi Dan Tanggapan Serikat
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN) Ristadi menyatakan pihaknya telah mengecek lapangan terkait isu relokasi dua pabrikan otomotif Jepang di Jawa Timur, yakni PT SAI dan PT JAI. “Hasilnya yang kami dapat bahwa pemberitaan pernyataan tersebut tidak benar,” kata Ristadi.
Ristadi mengatakan kebijakan Kementerian Perindustrian konsisten berpihak pada keberlangsungan industri otomotif nasional. Ia menyebut langkah strategis termasuk pengajuan insentif bertujuan melindungi investasi yang ada, meningkatkan utilisasi pabrik, dan memberikan perlindungan terhadap kepastian kerja para pekerja.
Ia menegaskan isu relokasi ke Vietnam tidak benar dan menyatakan fasilitas produksi tetap berjalan di Indonesia. Ristadi mengimbau pihak terkait untuk berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan publik agar tidak menimbulkan kegaduhan yang memengaruhi pekerja dan iklim investasi.
Bob menuturkan kabar relokasi perusahaan besar komponen otomotif juga dinyatakan tidak benar berdasarkan penelusuran pemerintah. Meski perusahaan multinasional sedang mengevaluasi peta industri beberapa tahun ke depan, ia menilai Indonesia masih memiliki keunggulan pasar otomotif terbesar di ASEAN.
“Sejauh ini kita diuntungkan karena market kita yang lumayan besar. Jadi sebenarnya industri otomotif itu industri yang besar dan punya resilience yang cukup baik. Yang sekarang sedang dievaluasi adalah bagaimana prospeknya ke depan,” ujar Bob.
Ia menambahkan Asia Tenggara telah berkembang menjadi basis produksi global untuk berbagai industri, sehingga Indonesia dinilai memiliki peluang memperkuat daya saing dengan menjaga iklim investasi dan mendorong orientasi ekspor.
Ikuti Ihram.co.id
