Perawatan minimal invasif MitraClip kini tersedia di Primaya Hospital Kelapa Gading sebagai pilihan penanganan bagi pasien dengan kebocoran katup mitral (mitral regurgitation/MR), terutama mereka yang berisiko tinggi menjalani operasi jantung terbuka. Kehadiran teknologi ini ditandai dengan pelaksanaan prosedur MitraClip perdana di lingkungan Primaya Hospital Group.

Teknologi tersebut diharapkan memperluas opsi terapi dan meningkatkan kualitas hidup pasien yang mengalami MR berat atau berulang kali mengalami gagal jantung.

Kebocoran katup mitral termasuk salah satu penyebab gagal jantung yang dapat menurunkan kualitas hidup hingga meningkatkan risiko kematian bila tidak ditangani tepat. Berbagai studi menyebut prevalensi MR derajat sedang sekitar 6,3% dan kasus berat sekitar 1,7%. Pada pasien dengan kebocoran katup berat, angka kematian dalam lima tahun bisa mencapai 68%.

Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, SpJP(K) FIHA, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Intervensi sekaligus Konsultan Aritmia di Primaya Hospital Kelapa Gading, mengatakan banyak pasien baru memeriksakan diri saat penyakit sudah memasuki stadium lanjut.

“Keluhan seperti sesak napas saat beraktivitas, cepat lelah, atau bengkak pada tungkai sering dianggap sebagai proses penuaan atau kelelahan biasa. Padahal, semakin dini kebocoran katup diketahui, semakin besar peluang memberikan terapi yang optimal sebelum fungsi jantung mengalami penurunan,” ujar Prof. Yoga pada Senin (29/6/2026).

Prosedur Perdana

Pada prosedur perdana, tim dokter menangani pasien berusia 72 tahun dengan kebocoran katup mitral berat yang berulang kali mengalami gagal jantung. Pasien diperkirakan memiliki fungsi pompa jantung sekitar 25%, sehingga operasi jantung terbuka dinilai sangat berisiko.

Dalam kondisi tersebut, tim medis memilih MitraClip sebagai alternatif terapi.

Alternatif Terapi

Prosedur MitraClip dilakukan melalui kateter yang dimasukkan lewat pembuluh darah di lipat paha tanpa membuka rongga dada. Alat berbentuk klip dipasang untuk menyatukan bagian katup mitral yang bocor sehingga aliran darah menjadi lebih optimal.

Dibanding operasi konvensional, tindakan ini memiliki risiko lebih rendah, durasi prosedur relatif singkat, masa rawat inap sekitar dua hingga tiga hari, dan memungkinkan pasien kembali beraktivitas lebih cepat.

Menurut Prof. Yoga, MitraClip memberi manfaat besar bagi pasien dengan functional mitral regurgitation, yaitu kebocoran katup yang disebabkan gangguan fungsi jantung, bukan kerusakan struktur katup. Kelompok pasien ini selama ini memiliki pilihan terapi terbatas karena tingginya risiko operasi terbuka.

Pengembangan Layanan Jantung

Direktur Primaya Hospital Kelapa Gading, dr. Ferry Aryo MARS MM MH Cmed CPM FISQua, menyatakan kehadiran MitraClip merupakan bagian dari pengembangan layanan jantung berbasis teknologi minimal invasif.

“Hadirnya MitraClip melengkapi layanan jantung komprehensif kami, mulai dari diagnosis hingga tindakan intervensi. Kami berharap masyarakat dapat memperoleh akses terhadap terapi jantung berteknologi tinggi di dalam negeri,” kata Ferry.

Pelaksanaan prosedur perdana juga melibatkan kolaborasi dengan pakar jantung struktural dari Ramathibodi Hospital, Mahidol University, Thailand, sebagai bagian dari transfer pengetahuan dan penguatan kompetensi tenaga medis di Indonesia.