Menteri Sekretaris Negara RI, Prasetyo Hadi, mengumumkan bahwa pemerintah akan segera memulai pembangunan proyek Waste to Energy (WTE) atau pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) di 34 titik di seluruh Indonesia. Proyek ini merupakan bagian dari program hilirisasi yang akan dimulai dengan peletakan batu pertama (groundbreaking) pada Januari hingga Maret 2025.
Dukungan Penuh Wakil Ketua MPR
Menyambut baik inisiatif pemerintah, Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Eddy Soeparno, menyatakan dukungannya penuh terhadap program WTE. Ia menilai terobosan Presiden Prabowo ini menjadi kebijakan penting dalam mengatasi masalah sampah yang telah lama dihadapi Indonesia.
“Bertahun-tahun Indonesia menghadapi masalah sampah dan tidak ada solusi komprehensifnya. Terobosan Presiden Prabowo dengan program WTE menjadi kebijakan penting dalam memenuhi hak warga untuk lingkungan hidup yang bersih dan sehat sekaligus menghasilkan energi terbarukan,” tegas Eddy, dalam keterangannya, Rabu (7/1/2025).
Masukan untuk Implementasi yang Sinergis
Eddy Soeparno mengungkapkan bahwa selama terlibat dalam penyusunan Perpres Nomor 109 Tahun 2025 tentang WTE, banyak masukan yang telah disampaikan untuk memastikan implementasi program berjalan lancar dan bersinergi dengan kesiapan daerah.
“Dalam pembahasan Perpres Nomor 109 Tahun 2025 kami ikut memberikan masukan agar program ini bisa sinergi dengan kesiapan daerah mulai dari Pemda, perangkat hingga warga dalam impelementasinya,” ujar Doktor Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI) tersebut.
Dialog dengan Kepala Daerah
Selama fase persiapan program WTE, Eddy Soeparno terus menjalin dialog dengan para wali kota di beberapa daerah prioritas penerapan program. Ia mencatat berbagai aspirasi yang disampaikan oleh para kepala daerah terkait pelaksanaan program ini.
“Kami bertemu antara lain dengan Wali Kota Bandung, Palembang, Tangsel, Yogyakarta hingga Manado, Balikpapan, hingga Denpasar,” kata Eddy. Ia menambahkan, “Berbagai aspirasi disampaikan seperti misalnya mengenai upaya memaksimalkan kapasitas 1.000 ton hingga bagaimana agar program WTE ini sejalan dengan upaya mengubah perilaku masyarakat di hulunya.”
Persiapan Masa Transisi dan Perubahan Perilaku
Eddy Soeparno juga menekankan pentingnya daerah mempersiapkan masa transisi selama program ini dipersiapkan, khususnya dalam menghadapi lonjakan sampah saat Lebaran atau menjelang hari-hari besar lainnya.
“Persiapan masa transisi ini dapat dilakukan dengan penguatan layanan dasar pengelolaan sampah, optimalisasi pengangkutan sampah, penataan tempat penampungan sementara, serta penertiban praktik pembuangan liar,” jelas Eddy.
Ia menambahkan, “Perlu dilakukan penerapan pemilahan sampah sederhana di tingkat masyarakat, dengan fokus pada pemisahan sampah organik dan anorganik bernilai,” pungkasnya.






