Yann LeCun, yang dikenal sebagai salah satu tokoh penting di bidang kecerdasan buatan, mengkritik perusahaan AI milik Elon Musk, xAI, dan menyebut perusahaan itu sebagai sebuah kegagalan.

LeCun menilai xAI kesulitan bersaing di barisan depan industri AI global dan menyebut keluarnya sejumlah pendiri sebagai penyebab utama masalah internal perusahaan.

“Sejujurnya, xAI semacam gagal karena tim pendirinya telah pergi. Elon kini berada dalam posisi yang sangat sulit untuk merekrut talenta terbaik di bidang AI karena rekam jejak perilakunya terhadap tim sebelumnya,” kata LeCun.

LeCun, yang pernah menjabat Kepala Ilmuwan AI di Meta, juga menyebut bahwa Musk terpaksa menyewakan infrastruktur pusat data raksasa miliknya, termasuk fasilitas seperti Colossus 1 dan Colossus 2 di Memphis, kepada pihak lain untuk membantu menutup biaya operasional yang besar.

Peringatan Mengenai Risiko Industri

Selain mengkritik xAI, LeCun memperingatkan kondisi keuangan di sektor AI secara umum. Ia menyoroti tingginya pengeluaran untuk pengembangan teknologi yang belum diimbangi pendapatan yang memadai.

LeCun memperingatkan kemungkinan terjadinya “ledakan gelembung besar” jika perusahaan terus membiayai layanan AI terutama melalui modal investor tanpa arus pemasukan yang sepadan.

“Mereka harus menaikkan harga atau memangkas biaya secara drastis, jika tidak, ledakan gelembung besar akan terjadi,” ujar LeCun.

Preferensi Teknologi: World Models

Dalam pandangannya tentang arah pengembangan AI, LeCun konsisten mendukung konsep world models dibandingkan hanya mengandalkan Large Language Models (LLM) yang menjadi dasar banyak produk saat ini.

Ia berargumen bahwa LLM memiliki keterbatasan dalam memahami sebab-akibat dunia nyata, sehingga sistem AI yang andal ke depan perlu berbasis pemahaman bagaimana dunia bekerja, bukan sekadar memprediksi pola bahasa.

Ketegangan Personal dan Kekhawatiran Bisnis

Kritik LeCun menambah daftar perseteruan antara dirinya dan Elon Musk yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Keduanya kerap bersilang pendapat mengenai arah perkembangan teknologi AI.

Di sisi lain, isu keberlanjutan model bisnis AI menjadi perhatian di Silicon Valley. CEO OpenAI, Sam Altman, baru-baru ini mengakui bahwa biaya operasional sistem AI merupakan tantangan besar, yang memunculkan keraguan investor terkait profitabilitas jangka panjang investasi besar di sektor ini.

Isu-isu tersebut mempertegas perdebatan tentang bagaimana industri AI harus menyeimbangkan dorongan inovasi dengan tekanan ekonomi agar model bisnis tetap berkelanjutan.