Pakar pasar memperingatkan bahwa obligasi pemerintah AS berpeluang menjadi pilihan safe-haven yang lebih menarik dibandingkan emas, setelah logam mulia mencapai valuasi tertinggi relatif terhadap obligasi AS dalam hampir 40 tahun.

Harga emas sempat menyentuh US$ 4.026,78 per troy ounce pada Jumat (26/6), namun beberapa hari terakhir mengalami penurunan yang menimbulkan sorotan terhadap daya tariknya sebagai aset lindung nilai.

Mike McGlone, Ahli Strategi Pasar Senior di Bloomberg Intelligence, menilai bahwa pada level saat ini—terutama jika momentum bullish di pasar ekuitas melambat—obligasi AS dapat kembali lebih menarik bagi investor.

“Indeks obligasi pemerintah AS telah anjlok terhadap S&P 500 sejak 2021 karena lonjakan uang terbesar dalam sejarah. Akankah obligasi pemerintah AS, yang mencapai sekitar 5,20% pada bulan Mei, terus meleset terhadap saham, atau mungkin lonjakan ini menandai akhir permainan? Kami cenderung pada yang terakhir, terutama karena ruang pemulihan yang sangat besar,” kata McGlone.

Perbandingan Emas dan Aset Lain

McGlone mengatakan emas meraih posisi alpha pada 2025, yang menjadi tahun terbaiknya sejak 1979. Namun kini pilihan investor tampak beralih ke saham, yang menurutnya dapat merugikan emas.

“Saham yang lebih tinggi mungkin berarti suku bunga dan persaingan yang lebih tinggi. Jika saham mengalami deflasi, obligasi pemerintah mungkin akan kembali unggul,” ujar McGlone.

Ia menambahkan bahwa hubungan antara emas dan obligasi pemerintah tampak mencapai titik balik lain, dengan awal pandemi COVID-19 sebagai sinyal beli awal untuk emas relatif terhadap obligasi.

Risiko dan Kondisi Makro

McGlone menilai emas berisiko pada 2026 jika rezim makroekonomi didominasi oleh pengetatan kebijakan moneter dan kenaikan imbal hasil riil.

“Logam mulia mencatatkan pengembalian negatif dalam tujuh dari 26 tahun terakhir, dan enam di antaranya didominasi oleh pengetatan kebijakan moneter dan imbal hasil riil yang lebih tinggi; pada tahun ketujuh. Sebaliknya, harga emas naik di setiap lima tahun ketika de-dolarisasi atau diversifikasi cadangan menjadi pendorong utama, dengan tahun 2025 memberikan pengembalian terkuatnya (lebih dari 60%) dalam 26 tahun terakhir,” kata McGlone.