Nilai tukar rupiah diperkirakan kembali melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Selasa, 23 Juni 2026, setelah penutupan yang melemah pada akhir perdagangan Senin.

Pada penutupan Senin sore (22/6/2026), rupiah anjlok 39 poin ke level Rp 17.843 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp 17.801 per dolar AS.

Sentimen Global Tekan Rupiah

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyatakan mata uang domestik berpotensi fluktuatif namun cenderung ditutup melemah di kisaran Rp 17.840–Rp 17.890 pada perdagangan berikutnya.

Ibrahim menegaskan salah satu pemicu pelemahan adalah sentimen global terkait meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah.

Selain itu, perhatian pasar tertuju pada rangkaian rilis data ekonomi AS pekan ini, termasuk perkiraan terakhir Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I-2026 dan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (PCE) sebagai indikator inflasi pilihan The Fed.

Risiko Domestik: BBM dan Cuaca

Dari sisi domestik, Ibrahim mengingatkan risiko yang timbul dari proyeksi penyesuaian harga bahan bakar minyak nonsubsidi, seperti kemungkinan kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Turbo, yang menurut Bank Indonesia akan turut mendorong inflasi nasional.

“Tantangan utama berasal dari rambatan global berupa transmisi harga minyak dan komoditas ke dalam negeri, atau yang lazim disebut sebagai imported inflation. Faktor rambatan global tersebut secara langsung berdampak pada kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices), seperti yang tercermin dari kebijakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi baru-baru ini,” ujar Ibrahim.

Ibrahim menambahkan risiko kedua adalah potensi gangguan cuaca. Ia menyebut fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi pada akhir Juni hingga Oktober atau November dapat memberi tekanan pada kelompok harga pangan bergejolak (volatile food).