Prospek harga emas global diperkirakan masih menghadapi tekanan dalam beberapa bulan mendatang. Analis komoditas dan Co-Founder DeCarley Trading, Carley Garner, menyarankan sejumlah strategi yang bisa dipertimbangkan investor saat volatilitas pasar meningkat.
Meski kinerja emas sepanjang tahun lalu menunjukkan kenaikan sekitar 20% dibanding periode sama tahun sebelumnya, pergerakan sejak awal 2026 berbalik negatif. Hingga akhir Juni, harga emas tercatat terkoreksi sekitar 6,8% secara year-to-date (YTD) setelah sempat mencetak rekor di Januari.
Pengaruh Penguatan Dolar Dan Kebijakan Moneter
Garner memperkirakan harga emas masih berpotensi melemah seiring penguatan dolar Amerika Serikat. Ia menyoroti kebijakan Ketua The Fed, Kevin Warsh, yang berfokus menarik likuiditas dari pasar sebagai tantangan bagi reli emas.
Menurut Garner, upaya memperkuat dolar melalui pengurangan jumlah uang beredar, bukan hanya kebijakan suku bunga, bisa menghapus salah satu faktor utama yang mendukung kenaikan emas.
“Warsh ingin menarik uang keluar dari sistem dan mengurangi jumlah uang beredar sehingga memperkuat dolar. Saya melihat ia ingin mengendalikan inflasi melalui dolar yang lebih kuat. Itu bukan kabar baik bagi emas, perak, tembaga, maupun sebagian besar komoditas,”
Garner menambahkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir investor kerap membeli emas untuk melindungi nilai terhadap pelemahan mata uang. Namun, jika dolar kembali menguat secara berkelanjutan, daya tarik emas diperkirakan akan menurun.
Tekanan Jangka Pendek, Optimisme Jangka Panjang
Walau tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang emas, Garner memperkirakan tekanan harga masih akan berlanjut dalam waktu dekat. Ia menyebut pasar sedang mengalami likuidasi aset secara bertahap setelah reli panjang sejak stimulus besar-besaran pada masa pandemi.
“Saya melihat kita sedang memasuki periode likuidasi besar. Rasanya seperti kecelakaan kereta yang terjadi secara perlahan,” ujarnya.
Garner melihat obligasi pemerintah AS (US Treasury) dan dolar AS sebagai tujuan utama dana karena menawarkan kombinasi keamanan dan imbal hasil.
Perkiraan Level Harga Dan Saran Strategi
Dalam skenario koreksi, Garner memproyeksikan harga emas bisa turun ke kisaran US$3.700–US$3.600 per ons troi sebelum menemukan dasar yang lebih sehat.
Di tengah potensi penurunan tersebut, ia justru menyoroti peluang bagi investor yang memahami perdagangan derivatif. Volatilitas yang meningkat membuat premi kontrak opsi relatif mahal, sehingga strategi opsi dapat dimanfaatkan.
Salah satu taktik yang disarankan adalah put spread: membeli opsi jual pada strike price US$3.600 per ons troi dan menjual opsi jual pada strike price US$3.800 per ons troi. Posisi ini dinilai relatif murah karena berada jauh di bawah harga pasar saat ini.
Garner menjelaskan investor tidak perlu menunggu harga turun ke level tersebut; lonjakan volatilitas pada penurunan tajam sudah berpotensi menaikkan nilai strategi itu. Namun ia menegaskan belum merekomendasikan membuka posisi jual langsung pada emas.
“Saya lebih memilih memanfaatkan potensi pelemahan harga melalui strategi opsi, terutama menjelang periode musim panas ketika aktivitas perdagangan biasanya cenderung lebih sepi,” katanya.
Untuk investor jangka panjang, Garner menyarankan melihat koreksi sebagai kesempatan akumulasi bertahap setelah harga mencapai level yang lebih menarik.
Ikuti Ihram.co.id
