Nilai tukar rupiah diperkirakan kembali menguat terhadap dolar AS pada perdagangan Selasa, 30 Juni 2026. Pada penutupan Senin sore, 29 Juni 2026, rupiah menguat 71 poin ke level Rp17.851 per dolar AS dari posisi Rp17.922 per dolar AS.
Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan mata uang domestik akan fluktuatif namun menutup perdagangan besok di rentang Rp17.800–Rp17.860.
Ihram.co.id — “Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp17.800 – Rp17.860,” ujar Ibrahim dalam keterangannya pada Senin (29/6/2026).
Ibrahim menilai prospek penguatan rupiah mendapat dukungan dari beberapa kebijakan pemerintah dan penempatan dana. Salah satunya adalah penempatan dana pemerintah yang ada di Bank Indonesia ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) sebesar Rp281 triliun.
Selain itu, pemerintah menyiapkan hingga Rp100 triliun dana siaga yang dapat ditempatkan di perbankan jika diperlukan. Penempatan tersebut dimaksudkan sebagai likuiditas untuk memperkuat kapasitas perbankan dalam penyaluran kredit kepada masyarakat, menurut Ibrahim.
“Selain itu, pemerintah menyiapkan hingga Rp100 triliun dana siaga jika perlu ditempatkan di perbankan. Penempatan tersebut sebagai likuiditas untuk memperkuat kapasitas perbankan dalam menyalurkan kredit kepada masyarakat,” ujar Ibrahim.
Ibrahim juga menyebut keputusan pemerintah untuk tidak menerima pinjaman senilai USD30 miliar dari Dana Moneter Internasional (IMF) menjadi faktor yang turut mendukung penguatan rupiah.
“Bagi pelaku pasar, keputusan tersebut mempertegas optimisme pemerintah terhadap kekuatan fundamental ekonomi Indonesia,” kata Ibrahim.
Ia menambahkan pelaku pasar masih menantikan sejumlah indikator ekonomi awal Juli, termasuk data neraca perdagangan dan tingkat inflasi. Kedua data tersebut diperkirakan akan menjadi pertimbangan penting dalam menilai kondisi ekonomi nasional dan arah pergerakan rupiah berikutnya.
Ikuti Ihram.co.id
