Harga emas diperkirakan masih mengalami tekanan pada pekan ini seiring fokus pelaku pasar pada pidato pejabat bank sentral utama dan rilis data ketenagakerjaan AS atau Non-Farm Payrolls (NFP).
Perdagangan terakhir menunjukkan harga emas ditutup melonjak 1,53% ke level US$ 4.089,26 pada Jumat (26/6/2026). Namun dalam sepekan sebelumnya logam mulia itu mencatat pelemahan 1,71%, melanjutkan tren turun selama empat minggu berturut-turut.
Analis Forex.com Fawad Razaqzada menyampaikan prospek kebijakan moneter The Fed yang masih cenderung ketat menjadi faktor utama tekanan terhadap emas beberapa minggu terakhir. Meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut menurunkan permintaan terhadap aset safe haven.
“Sebagian besar pelemahan harga emas mencerminkan ekspektasi bahwa The Fed akan tetap mempertahankan kebijakan moneter yang hawkish,”
Razaqzada menambahkan, jika The Fed pada akhirnya menaikkan suku bunga lebih agresif dibanding ekspektasi pasar, tekanan pada harga emas berpotensi meningkat.
Forum Bank Sentral Di Sintra
Pekan ini pasar bakal mencermati forum bank sentral yang digelar di Sintra, Portugal, di mana sejumlah petinggi bank sentral dunia termasuk ketua The Fed, ECB, dan Bank of England dijadwalkan hadir dalam panel kebijakan moneter.
Razaqzada menyatakan investor akan menyoroti komentar terakhir dari Ketua The Fed Kevin Warsh. Pernyataan agresif mengenai suku bunga diperkirakan dapat memperkuat dolar AS dan menambah tekanan terhadap harga emas.
“Di sisi lain, jika pejabat bank sentral lain mengisyaratkan kebijakan yang lebih longgar seiring turunnya harga minyak dunia, sentimen tersebut dapat sedikit menopang pergerakan emas,”
Rilis Data Ekonomi AS
Selain komentar pejabat bank sentral, fokus utama pasar juga tertuju pada serangkaian data ekonomi AS yang dipercepat karena libur Hari Kemerdekaan AS. Sorotan terbesar adalah data NFP dan pertumbuhan upah yang akan diumumkan pada Kamis (2/7/2026).
Setelah tiga bulan berturut-turut data tenaga kerja melampaui ekspektasi, Razaqzada mengatakan hasil NFP kali ini diperkirakan menjadi penentu arah dolar AS, harga emas, dan pasar saham global. Data ketenagakerjaan yang lebih kuat dari perkiraan dinilai dapat memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama, sehingga menjadi sentimen negatif bagi emas.
Dari sisi teknikal, Razaqzada memaparkan emas sempat bangkit dalam dua sesi terakhir dan kembali bergerak di atas level US$ 4.000 per ons troi. Namun penguatan tersebut masih terbatas karena harga berada di bawah rata-rata pergerakan 200 hari, yang menunjukkan tren utama masih bearish.
Menurut Razaqzada, area US$ 4.098 per ons troi merupakan level resistensi penting yang harus ditembus agar emas dapat melanjutkan pemulihan. “Jika berhasil dilewati, target kenaikan berikutnya berada di kisaran US$ 4.170 per ons troi hingga US$ 4.300 per ons troi,” ujarnya.
Sebaliknya, jika tekanan jual meningkat kembali, harga emas berpotensi menguji area US$ 3.916. “Jika level tersebut ditembus, pelemahan dapat berlanjut menuju level psikologis US$ 3.900, bahkan hingga US$ 3.800 per ons,” kata Razaqzada.
Ikuti Ihram.co.id
