JAKARTA — Kepala Riset Komoditas TD Securities, Bart Melek, memperkirakan harga emas dunia berpotensi melanjutkan penurunan hingga menyentuh level terendah sebelum kembali reli ke kisaran di atas US$5.000 per troy ounce.

Perkiraan itu, disampaikan Melek pada Selasa (30/6/2026), menyebut kemungkinan penurunan harga emas sampai di bawah US$3.900 per troy ounce sebelum bergerak naik kembali menuju sekitar US$5.300 per troy ounce.

Proyeksi Pemulihan Hingga 2027

Melek menyatakan meski ada risiko penurunan berkelanjutan, posisi emas tetap kuat untuk mengalami pemulihan yang signifikan hingga 2027 dan akhirnya menembus rekor baru di atas US$5.300 per troy ounce.

“Berakhirnya pelonggaran hambatan ekonomi dan arus dana yang terkait dengan perang di Iran seharusnya memberikan katalis positif bagi emas,” ujar Melek.

Faktor yang Memengaruhi Harga

Menurut Melek, ekspektasi inflasi yang rendah dan pergeseran kebijakan The Fed, bersamaan dengan kemungkinan suntikan likuiditas untuk mengimbangi pelemahan ekonomi akibat guncangan pasokan energi dan komoditas utama, diperkirakan mendukung kenaikan harga emas.

Dia menambahkan bahwa risiko jangka pendek terbesar saat ini berkaitan dengan sentimen terhadap harga minyak, yang berpotensi memicu tekanan inflasi.

“Dengan gangguan di Selat Hormuz yang mengikis persediaan energi ke tingkat terendah dalam sejarah, risiko utamanya adalah pasar minyak mentah yang terlalu jenuh dapat mengalami rebound tajam,”

Melek menuturkan, “Kami percaya harga minyak Brent masih dapat bergerak ke kisaran US$90–110/barel, meningkatkan ekspektasi inflasi dan memperkuat bias kebijakan yang restriktif, sehingga meningkatkan biaya carry dan peluang bagi pemegang emas.”