Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami penurunan signifikan sepanjang 2026, namun analis menilai peluang pemulihan masih terbuka seiring kekuatan fundamental bank.
Sejak awal tahun, saham BBCA terkoreksi hingga 22% year-to-date dan jatuh 40,7% dari level tertinggi tahun ini. Penurunan ini terjadi bersamaan dengan melemahnya kepercayaan investor asing dan tantangan domestik yang berlanjut.
Meski demikian, analis KB Valbury Sekuritas, Akhmad Nurcahyadi, menilai fundamental BBCA tetap solid. “Meski demikian, kami menilai fundamental BBCA tetap sangat kuat,” tulis Akhmad dalam risetnya.
Kinerja Laba dan Rasio
Laba bersih bank only BBCA pada periode Januari–Mei 2026 tercatat Rp 25,6 triliun. Angka ini setara 42,7% dari proyeksi KB Valbury Sekuritas dan 41,7% dari konsensus pasar untuk 2026.
Pencapaian tersebut berada di atas rata-rata realisasi lima tahun terakhir yang sebesar 38,4%, sehingga kinerja BBCA dinilai sesuai ekspektasi.
Efek Kenaikan BI Rate terhadap Margin
Kenaikan suku bunga acuan BI sebesar 100 basis poin sejak awal tahun, menjadi 5,75%, diperkirakan berpotensi mendorong repricing aset produktif mulai kuartal IV-2026. Langkah ini dianggap katalis bagi pemulihan margin bunga BBCA.
Secara umum, transmisi kenaikan suku bunga acuan ke kinerja perbankan memerlukan waktu tiga hingga enam bulan. Namun, strategi BBCA yang proaktif melakukan repricing kredit diperkirakan mempercepat peningkatan imbal hasil aset mulai kuartal IV-2026.
Dengan kondisi tersebut, target net interest margin (NIM) tahun ini sebesar 5,4–5,6% dinilai semakin realistis. “Bahkan, ada peluang bagi BBCA untuk mencapai batas atas dari panduan tersebut,” kata Akhmad.
Penilaian Valuasi dan Rekomendasi
KB Valbury Sekuritas menilai valuasi saham BBCA saat ini belum mencerminkan prospek fundamental perusahaan. Untuk menguji batas bawah valuasi, rumah riset ini melakukan simulasi menggunakan Gordon Growth Model (GGM).
Dalam skenario sangat konservatif, asumsi tingkat imbal hasil bebas risiko dinaikkan 100 bps dan premi risiko ekuitas (equity risk premium) ditambah 240 bps. Meski demikian, hasil simulasi menunjukkan nilai dasar Rp 6.860 per saham.
Hasil tersebut dianggap menunjukkan terdapat ruang kenaikan. KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham BBCA dengan target harga Rp 9.480 berdasarkan model GGM, mengindikasikan potensi upside sekitar 55% dari harga saat ini.
Target itu setara estimasi price to book value (P/B) 2026 sebesar 3,8 kali. Saat ini, saham BBCA diperdagangkan pada P/B 2026 sekitar 2,5 kali, berada di bawah rata-rata historis dan bahkan di bawah level minus dua standar deviasi (-2SD), sehingga dinilai relatif murah dibandingkan sejarah perdagangan saham perusahaan.
Ikuti Ihram.co.id
