Hubungan antara Amerika Serikat dan Israel dilaporkan memanas seiring perbedaan tajam soal arah kebijakan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Di tengah situasi itu, pejabat AS disebut mulai menjajaki komunikasi informal dengan tokoh-tokoh oposisi Israel.
Sumber menyebut Washington melihat peluang perubahan pemerintahan dan ingin membangun saluran kepercayaan alternatif menjelang pemilu, termasuk dengan figur oposisi seperti Naftali Bennett dan Gadi Eisenkot.
Dalam pernyataan yang beredar, disebutkan, “Pemerintahan AS telah menyatakan keprihatinan terhadap kelompok garis keras dalam pemerintahan Netanyahu dan berupaya membangun basis dukungan publik baru menjelang pemilu.”
Respons AS dan Langkah Kontak
Menurut laporan yang beredar, para pejabat AS selama beberapa bulan terakhir mulai menunjukkan respons lebih serius terhadap upaya mendekati oposisi Israel. Langkah ini dipandang sebagai antisipasi atas potensi gejolak politik dalam negeri Israel.
Meski komunikasi dibangun, presiden AS secara terbuka belum menyatakan dukungan resmi kepada tokoh politik Israel manapun.
Jajak Pendapat dan Proyeksi Kursi
Sebuah jajak pendapat terbaru menunjukkan jika pemilu digelar saat ini, kubu oposisi diproyeksikan mampu membentuk pemerintahan baru dengan meraih 61 kursi di Knesset. Sementara itu, blok yang mendukung Netanyahu diperkirakan hanya memperoleh 49 kursi, dan partai-partai Arab diprediksi mengamankan sekitar 10 kursi.
Ketegangan Regional dan Penolakan Terhadap Gencatan
Isu keretakan ini muncul berbarengan dengan perundingan di Swiss yang dimediasi oleh Pakistan, yang bertujuan meredakan konflik militer regional pasca-serangan gabungan AS-Israel ke Iran pada Februari lalu. Salah satu opsi yang dibahas adalah gencatan senjata mencakup penghentian permusuhan di semua front, termasuk Lebanon.
Nikmat menolak mengaitkan isu Iran dengan Lebanon dan menegaskan pasukan Israel tidak akan mundur dari wilayah selatan Lebanon yang dikuasai saat ini, menurut keterangan yang beredar. Sikap penolakan ini turut memicu berlanjutnya operasi militer di beberapa front.
Dampak Kemanusiaan dan Implikasi Hubungan
Berdasarkan data resmi pemerintah Lebanon, sejak 2 Maret 2026 terjadi hampir 4.000 orang tewas dan lebih dari 12.000 warga sipil terluka akibat agresi militer terkait konflik yang berlangsung. Angka ini kerap dikutip dalam perdebatan internasional tentang kebutuhan gencatan senjata.
Kebijakan domestik dan militer pemerintah Netanyahu yang dianggap keras disebut mulai menggerus kepercayaan publik domestik serta hubungan dengan sekutu terdekat, termasuk Amerika Serikat. Di tengah tekanan internasional untuk meredakan konflik, komunikasi informal AS dengan oposisi menjadi catatan penting menjelang dinamika politik di Israel.
Ikuti Ihram.co.id
