Senin 17 Jul 2023 13:52 WIB

Berpisah Hidup di Arafah: Kisah Cinta Jamaah Haji Aat dan Suharja

Arafah tempat bertemu Nabi Adam dan Hawa, tapi memisahkan dua jamaah haji ini.

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Erdy Nasrul
Petugas membawa jamaah yang wafat usai dishalatkan di Masjidil Haram, Mekah, Arab Saudi.
Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Petugas membawa jamaah yang wafat usai dishalatkan di Masjidil Haram, Mekah, Arab Saudi.

IHRAM.CO.ID, MAKKAH -- Selalu ada suka dan duka menyelimuti perjalanan ibadah para jamaah haji di Tanah Suci. Mereka bersuka cita karena dapat berangkat ke tanah para nabi ribuan tahun lalu mendakwahkan tauhid dan menghadirkan perubahan keimanan. Di sana mereka mengeruk ratusan ribu bahkan jutaan pahala untuk ketenangan hati dan bekal hidup di akhirat kelak.

Namun di sisi lain, mereka juga mengalami hal yang mengganggu kenyamanan. Cuaca yang panas luar biasa. Belum lagi makanan ala Arab yang belum tentu bisa dinikmati. Lalu lintas padat. Suasana yang berbeda dengan kampung halaman, dan masih banyak lagi kekurangan dan ketidaknyamanan yang harus dirasakan. Namun, semua itu tak menciutkan semangat mewujudkan cita-cita mengamalkan Rukun Islam kelima.

Baca Juga

Contoh jamaah haji semacam itu adalah Aat bersama suaminya Suharja. Mereka adalah warga Majalengka Jawa Barat. Keduanya terus menempuh apapun yang mereka hadapi. Asal keduanya bersama, segala kenikmatan dan kesusahan terasa mudah dilewati, sebagaimana mereka sudah puluhan tahun menjalin cinta dalam mengarungi berbagai cobaan hidup dan prestasi.

Mereka berangkat ke Tanah Suci sebagai jamaah haji gelombang kedua. Dari embarkasi Kertajati (KJT 10) di Jawa Barat, keduanya terbang dengan pesawat yang sudah disiapkan. Kemudian mendarat di Bandara Internasional King Abdul Aziz Jeddah Arab Saudi. Lalu perjalanan berlanjut ke Makkah untuk sampai ke hotel, beristirahat, kemudian lanjut melaksanakan tawaf dan umrah di Masjidil Haram.

Sungguh kenikmatan yang luar biasa berada di masjid yang mampu menampung tiga jutaan jamaah tersebut. Di sana mereka bersama jamaah haji lainnya meneteskan air mata penuh bahagia. Bertawaf sambil memanjatkan doa.

Kenikmatan ini adalah buah dari kesabaran menunggu lebih dari sepuluh tahun untuk ke Tanah Suci. Penantian dan kesabaran yang sungguh panjang. Mereka mewujudkan impian itu setelah masing-masing berusia lebih dari 60 tahun. Usia yang sudah sangat lanjut. Tubuh mereka tak lagi sesegar dahulu. Namun semangat Aat dan Suharja masih membara untuk beribadah di rumah Allah.

 

Lihat halaman berikutnya>>>

photo
Kegiatan Jamaah haji di Tanah Suci. - (Republika/Syahruddin El-Fikri)

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement