Harga Bitcoin (BTC) kembali tertekan pada Kamis (25/6/2026) dan sempat jatuh di bawah level psikologis US$60.000. Pelemahan ini mendorong mayoritas aset kripto ke zona merah.

Penguatan dolar AS serta meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS menjadi pemicu aksi jual di pasar aset digital.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada pukul 07.10 WIB, kapitalisasi pasar kripto global turun 2,17% menjadi US$2,1 triliun. Harga Bitcoin melemah 2,8% ke US$60.991 per koin atau sekitar Rp1,09 miliar (kurs Rp18.024 per dolar AS).

Indeks CoinDesk 20, yang mencerminkan kinerja 20 aset kripto terbesar, anjlok 2,34%. Ether (ETH) turun 2,91% ke US$1.620, Binance Coin (BNB) melemah 2,43% ke US$564, XRP turun 3,23% ke US$1,07, Dogecoin (DOGE) jatuh 3,39% ke US$0,07, dan Solana (SOL) terkoreksi 2,35% menjadi US$68,1.

Menurut data Tradingview, Bitcoin sempat terperosok di bawah US$60.000, level terendah sejak akhir 2024. Pelemahan ini berlangsung seiring penguatan dolar AS dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

Daya Tarik Memudar

Analis menilai pelemahan serentak di pasar kripto dan logam mulia mengindikasikan memudarnya daya tarik debasement trade, yaitu strategi yang mengandalkan emas, perak, dan bitcoin sebagai pelindung nilai terhadap inflasi dan depresiasi mata uang.

Indeks dolar AS tercatat melonjak sekitar 2,8% sepanjang bulan ini, merupakan kenaikan bulanan terbesar hampir setahun. Dolar yang lebih kuat membuat emas dan perak relatif lebih mahal bagi investor internasional.

Sementara itu, kenaikan ekspektasi suku bunga meningkatkan biaya peluang untuk memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil, sehingga memberi tekanan pada logam mulia dan aset kripto.