Harga Bitcoin kembali menunjukkan volatilitas tinggi pada perdagangan Senin (29/6/2026). Aset kripto nomor satu ini sempat menanjak menembus level psikologis US$60.000 setelah pasar merespons meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Kenaikan tersebut tidak bertahan lama. Aksi jual besar-besaran segera memangkas keuntungan, sehingga Bitcoin kembali turun dan masuk zona merah.

Sentimen positif awal muncul setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan darurat untuk menahan diri dari eskalasi konflik. Kedua negara menyepakati penghentian serangan militer langsung dan memprioritaskan jalur negosiasi teknis yang dijadwalkan di Doha, Qatar, sehingga jalur perdagangan di Selat Hormuz kembali relatif aman.

Reaksi pasar atas kabar itu mendorong pembelian aset berisiko. Sejumlah trader menutup posisi short (short cover), yang sempat mengangkat harga Bitcoin melewati US$60.000.

Support Jadi Resistance

Namun saat menyentuh kisaran US$60.000, area yang sebelumnya berperan sebagai dukungan kini berubah menjadi zona resistensi. Momen reli ini dimanfaatkan oleh investor institusi dan pemegang jangka panjang untuk mengambil keuntungan dan mengurangi porsi kepemilikan mereka.

Aksi jual di pasar spot menyerap likuiditas sehingga mencegah momentum kenaikan berlanjut. Menurut data CoinGecko, saat ini Bitcoin diperdagangkan sekitar US$59.722, turun sekitar 0,5% dalam 24 jam terakhir. Secara mingguan, aset ini turun 6,5% dan tercatat anjlok 18,7% selama sebulan terakhir.

Tekanan Dari Arus Modal dan Inflasi AS

Tekanan pasar juga diperparah oleh arus keluar dana dari investor institusi. Dalam dua bulan terakhir, instrumen Spot Bitcoin ETF mencatat arus modal keluar bersih lebih dari US$7 miliar, membalik sebagian besar pembelian yang sebelumnya menopang harga.

Data likuidasi dari CoinGlass menunjukkan penghapusan posisi perdagangan kripto senilai US$147,4 juta dalam 12 jam terakhir. Mayoritas adalah posisi long senilai US$116,1 juta, sementara posisi short hanya sekitar US$31,4 juta. Bitcoin menjadi penyumbang likuidasi terbesar dengan nilai US$64,3 juta, disusul Ethereum sebesar US$36,7 juta.

Selain dinamika teknikal, pasar juga mencermati inflasi di Amerika Serikat. Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) naik 4,1%, yang memunculkan kekhawatiran bahwa The Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi biaya pinjaman yang tinggi mendorong sebagian investor memilih memindahkan modal ke saham berbasis artificial intelligence (AI) dibandingkan aset kripto.

Analisis Teknikal: Outlook Campur Aduk

Indikator teknikal menunjukkan prospek beragam. Secara bearish, Bitcoin diperdagangkan di bawah Exponential Moving Average (EMA) 20, 50, 100, dan 200 hari yang masing-masing berada di US$62.734; US$66.902; US$70.542; dan US$76.514. Ini menandakan tekanan penjual masih mengendalikan tren jangka panjang.

Volume Profile Visible Range (VPVR) menempatkan aktivitas perdagangan terbesar pada kisaran US$63.000–US$67.000, sebuah zona yang akan menjadi ujian berat bila Bitcoin mencoba bangkit kembali.

Di sisi bullish, indikator momentum mulai memperlihatkan tanda-tanda kejenuhan jual. Pada grafik Bollinger Bands harian, harga mendekati pita bawah di kisaran US$58.532, sementara pita tengah berada pada US$62.770. Indikator Relative Strength Index (RSI) 14-hari tercatat di angka 32,5, sedikit di atas area jenuh jual (oversold), menunjukkan pelemahan tekanan jual meski tren belum berbalik.

Seorang analis anonim di platform X, yang menulis dengan nama Rod, menyebut struktur pasar saat ini mirip dengan bear market 2022, ketika muncul pola bullish RSI divergence sebelum harga mencapai titik terendah siklus dan kemudian rebound.

Peta Likuidasi dan Zona Kritis

Heatmap likuidasi 24 jam dari CoinGlass memperlihatkan konsentrasi posisi leverage terbesar berada di atas US$60.000, terutama antara US$60.200–US$60.400. Jika Bitcoin berhasil menembus dan bertahan di atas US$60.800–US$61.200, potensi likuidasi posisi short bisa memicu aliran beli baru.

Sebaliknya, dinding dukungan berada di kisaran US$58.500–US$58.700. Selama harga masih terjebak antara kedua zona tersebut, pergerakan kemungkinan akan bergerak menyamping (sideways) sembari menunggu katalis berikutnya.

Keterkaitan Bitcoin dengan sistem keuangan global kian nyata sejak persetujuan Spot Bitcoin ETF oleh regulator AS pada awal 2024. Saat ini, pergerakannya turut dipengaruhi dinamika makroekonomi dan geopolitik, serupa respons pasar modal tradisional.