PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) membukukan laba bersih Rp3,39 triliun untuk periode Januari–Mei 2026, tumbuh 16,73% year on year (yoy).
Peningkatan laba didukung hampir seluruh indikator keuangan yang tetap positif meski kondisi ekonomi domestik dan global tidak menentu.
Kinerja Keuangan 5M26
Merujuk laporan keuangan per 25 Juni 2026, laba bersih periode lima bulan tersebut tercatat antara lain dari perolehan Mei 2026 sebesar Rp588,90 miliar, naik 11,97% yoy namun turun 2,66% month on month (mom).
Seluruh lini pembiayaan melaporkan pertumbuhan, termasuk piutang pembiayaan, pembiayaan bagi hasil, dan sewa pembiayaan. Total pembiayaan yang disalurkan meningkat 14,63% yoy menjadi Rp334,01 triliun hingga Mei 2026, berada dalam rentang sasaran FY26 sebesar 10–14% yoy.
Pendapatan dari penyaluran dana naik 6,30% yoy menjadi Rp12,48 triliun. Bagi hasil kepada pemilik dana investasi tercatat Rp3,54 triliun atau turun 8,07% yoy, sehingga pendapatan setelah distribusi hasil menjadi Rp8,94 triliun, meningkat 13,31% yoy pada 5M26.
Rasio Dan Biaya
Rasio net imbalan (NI), setara dengan net interest margin (NIM) di bank konvensional, berada di level 4,79% pada Mei 2026 dan 5,01% untuk periode 5M26. Target NI perusahaan untuk FY26 sebelumnya dipatok di atas 5,50%.
Pendapatan komisi tercatat Rp1,43 triliun, naik 15,21% yoy pada Mei 2026, meski merupakan capaian terendah dalam lima bulan terakhir. Biaya provisi berlanjut turun menjadi Rp960,80 miliar atau turun 21,58% yoy pada 5M26, walau ada lonjakan bulanan sebesar 36,04% mom.
Rasio cost of financing (CoF) sedikit meningkat bulanan ke posisi 0,75% pada Mei dan 0,71% untuk periode lima bulan. Sementara rasio cost of credit (CoC) tetap berada di bawah pedoman FY26, yaitu di bawah 0,84%.
Pendanaan dan Likuiditas
BSI menghimpun dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp372,16 triliun, tumbuh 16,74% yoy. Kontributor utama adalah dana murah (CASA) yang meningkat 20,53% yoy menjadi Rp235,04 triliun.
Komposisi dana menunjukkan giro mendominasi dengan Rp443,96 triliun (+14,29% yoy), tabungan Rp393,57 triliun (+15,25% yoy), dan deposito Rp50,38 triliun (+7,33% yoy).
Rasio CASA tercatat 63,16% per Mei, sedangkan indikator likuiditas financing to deposit ratio (FDR) terjaga di 89,75%.
Indikator Profitabilitas
Return on assets (ROA) BSI pada periode 5M26 tercatat 1,81%, sedangkan return on equity (ROE) mencapai 15,76%.
Tantangan Ekonomi
BSI menyebutkan beberapa indikator makro bergerak menjauh dari proyeksi awal perseroan. Nilai tukar rupiah yang diperkirakan Rp16.224 per dolar AS sempat bergerak volatil di kisaran Rp17.000–Rp18.000 per dolar AS, sementara inflasi terbaru berada di level 3,05% dibandingkan proyeksi awal 2,34%.
Kenaikan BI-Rate sebesar 100 basis poin ke posisi 5,75% juga menjadi tantangan, padahal proyeksi BSI sebelumnya untuk 2026 menempatkan BI-Rate di kisaran 4,25%. Satu indikator yang sejalan adalah pertumbuhan ekonomi triwulan I-2026 sebesar 5,61%, sementara proyeksi akhir tahun BSI menempatkan pertumbuhan ekonomi di 5,11%.
Ikuti Ihram.co.id
