PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (BWS/SDRA) menempatkan penguatan fundamental bisnis dan efisiensi operasional sebagai prioritas memasuki semester II-2026. Langkah ini dinilai penting di tengah tekanan suku bunga tinggi, persaingan penghimpunan dana pihak ketiga, dan ketidakpastian ekonomi global.

Fokus tidak lagi semata mengejar pertumbuhan kredit, melainkan menjaga kualitas aset, likuiditas, serta efisiensi biaya dana. Penguatan dana murah atau current account saving account (CASA) disebut sebagai salah satu kunci untuk mempertahankan profitabilitas.

Penekanan Pada Kredit Berkualitas dan Struktur Pendanaan

Analis Ajaib Sekuritas Alvin Murthi mengatakan perbankan diperkirakan akan lebih berhati-hati menyalurkan kredit pada paruh kedua tahun ini. “Semester II-2026 masih akan menjadi periode yang menuntut disiplin tinggi bagi perbankan. Fokus utama bank bukan hanya pertumbuhan, tetapi pertumbuhan yang berkualitas. Efisiensi biaya dana, penguatan CASA, dan pengelolaan risiko kredit akan menjadi kunci,” ujarnya.

Alvin menyebut BWS sebaiknya memanfaatkan momentum tersebut untuk memperkuat fundamental: menjaga kualitas aset, meningkatkan CASA, mengelola likuiditas secara prudent, dan memperkuat layanan digital banking agar efisiensi dan daya saing meningkat.

Data Keuangan Perusahaan

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, BWS membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp106,83 miliar pada kuartal I-2026. Pendapatan bunga bersih tercatat Rp387,96 miliar, sedangkan laba operasional mencapai Rp137,20 miliar pada periode yang sama.

Dari sisi neraca, total aset BWS tercatat Rp54,19 triliun per Maret 2026. Kredit yang disalurkan mencapai Rp40,87 triliun, dengan total ekuitas sebesar Rp12,96 triliun. Posisi ekuitas tersebut disebut menjadi bantalan penting untuk menjaga stabilitas kinerja dan mendukung strategi bisnis yang lebih selektif.

Komposisi Dana Pihak Ketiga dan Tantangan Biaya Dana

Alvin menambahkan bahwa posisi permodalan yang kuat memberi fleksibilitas, namun tantangan utama tetap pada pengelolaan struktur pendanaan agar biaya dana tidak melambung. “Bank dengan modal kuat punya fleksibilitas lebih baik, tetapi tetap perlu menjaga struktur pendanaan. Dalam situasi persaingan DPK yang ketat, penguatan CASA menjadi sangat penting agar margin tidak terlalu tertekan,” katanya.

Posisi dana pihak ketiga BWS pada Maret 2026 masih ditopang oleh deposito sebesar Rp24,81 triliun. Giro tercatat Rp3,61 triliun dan tabungan Rp4,16 triliun, yang menunjukkan agenda penguatan CASA masih menjadi fokus untuk mendukung efisiensi biaya dana ke depan.

Peran Digital Banking

Selain pengelolaan pendanaan, Alvin menyoroti pengembangan layanan digital banking sebagai bagian dari strategi efisiensi. Layanan digital dinilai dapat memperluas basis nasabah transaksional, meningkatkan frekuensi transaksi harian, serta mendorong pertumbuhan dana murah secara berkelanjutan.

“Digital banking bisa menjadi pintu masuk untuk memperkuat CASA. Kalau transaksi nasabah meningkat, peluang bank untuk memperoleh dana murah juga lebih besar. Ini penting untuk menjaga efisiensi dan profitabilitas jangka panjang,” ujar Alvin.