DBS Group memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia akan mencapai level 8.000 hingga akhir 2026. Proyeksi itu disampaikan setelah mempertimbangkan sejumlah risiko makro dan geopolitik.

Bank investasi itu menegaskan target valuasi sudah memasukkan potensi pelemahan rupiah, ketidakpastian regulasi, serta risiko geopolitik. Target tersebut setara dengan rasio harga terhadap laba (PER) 12,6 kali, atau -1 standar deviasi dari rerata 10 tahun sebesar 15 kali.

“Bagi kami, risiko pelemahan sudah terkandung dalam valuasi saat ini. Kami kira pasar terlalu pesimistis terhadap IHSG, jika melihat hasil laba bersih emiten,”

Stabilisasi Rupiah Jadi Kunci

Menurut DBS, stabilisasi nilai tukar rupiah menjadi faktor utama bagi penguatan IHSG. Harapan stabil datang setelah Bank Indonesia menaikkan BI Rate; begitu rupiah menguat, DBS melihat ruang bagi peningkatan valuasi pasar ekuitas.

Peran Kinerja Kuartal II-2026

DBS menilai hasil kinerja keuangan emiten pada kuartal II-2026 akan menentukan arah pasar saham selanjutnya. Sejauh ini, bank investasi itu menaksir laba emiten BEI tumbuh 7,5% pada 2026, sedikit lebih rendah dari proyeksi awal 7,5%.

DBS mencatat sektor perbankan dan pemain komoditas menunjukkan kinerja kuat sepanjang 2026. Dengan valuasi saat ini, DBS menilai penurunan harga saham relatif terbatas, sementara kejutan positif dalam kinerja keuangan berpeluang mendorong rerating valuasi.

Daftar Saham Pilihan dan Target Harga

Dalam kondisi pasar saat ini, DBS memilih saham yang dianggap memiliki visibilitas laba kuat, neraca sehat, dan model bisnis defensif. Delapan saham yang mendapat rekomendasi buy hingga akhir 2026 beserta target harganya adalah:

  • AKRA – Rp1.600
  • ASII – Rp7.500
  • ADRO – Rp3.200
  • BBCA – Rp8.000
  • ISAT – Rp3.250
  • LSIP – Rp2.000
  • MYOR – Rp2.300
  • MEDC – Rp2.200