Upaya panjang Bitcoin untuk meninggalkan citra sebagai arena spekulasi ritel kini menghadapi tantangan baru. Gelombang aksi jual terakhir memicu kerentanan yang lebih besar pada aset kripto terbesar itu.

Masuknya modal institusional dari Wall Street memang menambah skala dan legitimasi pasar. Namun, analis menyatakan pembeli ritel yang sebelumnya menjadi penopang saat harga jatuh kini hampir menghilang, bersamaan saat permintaan institusional mulai melambat.

Penurunan Harga Dan Peran Pembeli

Harga Bitcoin sempat menyentuh level terendah dua minggu pada perdagangan 23 Juni 2026 dan bergerak stagnan di sekitar US$62.800, sekitar 50% di bawah rekor tertinggi Oktober 2025.

Analisis Deutsche Bank menyebut penurunan kini berbeda dari siklus bearish sebelumnya. “Pembeli marjinal saat ini bukan lagi investor ritel, melainkan pengelola alokasi ETF atau korporasi,” kata Marion Laboure, analis riset Deutsche Bank, Kamis.

Laboure menambahkan, ketika pelaku institusional ini menarik atau mengalihkan modalnya, penurunan harga berlangsung lebih cepat dan bersifat mekanis dibandingkan siklus yang didorong ritel.

Efek Sikap The Fed Dan Arus Keluar ETF

Pergeseran minat itu terjadi bersamaan dengan sikap moneter yang lebih agresif dari Federal Reserve. Beberapa ekonom memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan pada tahun berjalan, yang dapat membalik arus likuiditas yang sebelumnya mendukung aset berisiko.

Deutsche Bank mencatat investor telah menarik lebih dari US$6 miliar dari ETF yang melacak harga Bitcoin. Ini menjadi arus keluar terpanjang sejak 2024, dan permintaan ETF kini menjadi salah satu penggerak utama harga Bitcoin.

Penarikan dana massal tersebut diperkirakan memperbesar tekanan jual, sebagaimana arus masuk sebelumnya mampu memicu reli kenaikan.

Langkah Strategy Inc. yang menjual 32 Bitcoin awal bulan ini—penjualan pertama sejak 2022—memicu kekhawatiran bahwa pemegang korporasi dengan leverage tinggi bisa berubah menjadi penjual. Meski volume relatif kecil terhadap kepemilikan perusahaan, tindakan itu berimbas simbolis bagi sentimen pasar.

Harga Bitcoin kini juga diperdagangkan di bawah rata-rata biaya pembelian Strategy Inc. sebesar US$75.699, sehingga pasar mulai mempertimbangkan risiko forced selling oleh pemegang korporasi yang menggunakan pinjaman.

Rotasi Modal Ke Infrastruktur AI

Deutsche Bank menilai modal yang keluar dari kripto banyak mengalir ke instrumen terkait kecerdasan buatan. Alih-alih mengendap, dana tersebut berpindah ke sektor yang menjanjikan pertumbuhan infrastruktur AI.

Jika pergeseran modal ini bersifat struktural, tekanan terhadap permintaan aset kripto dapat berlangsung lebih lama dibandingkan penurunan sebelumnya.

Harapan Regulasi Dan Perubahan Struktur Pasar

Pelaku pasar kini menantikan katalis positif dari instrumen regulasi. Steve Kurtz, global co-head aset digital di Galaxy, menyatakan pasar menunggu kejelasan dari rancangan Undang-Undang Kejelasan (Clarity Act), yang menetapkan pembagian otoritas antara CFTC dan SEC terhadap industri kripto.

Kurtz menambahkan situasi politik di Washington, D.C. bersifat taktis dan dinamis, sehingga volatilitas diperkirakan tetap tinggi dalam jangka pendek.

Pada periode awal dan pada reli besar 2017 serta 2021, pasar Bitcoin didominasi investor ritel yang cenderung holding karena keyakinan komunitas. Namun sejak akhir 2023 dan awal 2024, peluncuran ETF Bitcoin Spot dan masuknya manajer aset besar mengubah struktur likuiditas secara mekanis.

Saat ini, Bitcoin dinilai lebih bereaksi layaknya saham pertumbuhan makro yang kinerjanya terkait erat dengan arus modal institusional, kebijakan suku bunga, dan persaingan likuiditas dengan sektor teknologi seperti AI.