Epidemiolog memperingatkan kemungkinan peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) pada 2027. Peringatan ini disampaikan seiring kondisi cuaca ekstrem dan fenomena El Niño.
Menurut Kepala Seksi Surveilans dan Epidemiologi Dinas Kesehatan Provinsi DKI, dr. Budi Setiawan M.Epid, kondisi cuaca yang “unik, ekstrem” ditambah El Niño menjadi sinyal peningkatan kasus DBD pada tahun mendatang.
Data Kasus dan Respons Pemerintah
Hingga 15 Juni 2026, tercatat 5.700 kasus infeksi dengue di DKI Jakarta. Menyikapi potensi lonjakan, pemerintah berencana mengintensifkan upaya pencegahan, termasuk edukasi publik dan gerakan lingkungan.
“Kami selalu galakkan edukasi pencegahan DBD. Jakarta sudah memiliki kalender 10 tahunan. Jadi, mulut kami akan lebih berbusa dibanding 2026 untuk meminta masyarakat meningkatkan pencegahan DBD,” kata dr. Budi.
Strategi Penanggulangan
Menurut dr. Budi, Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan strategi peningkatan penanggulangan DBD, antara lain penguatan pemberantasan sarang nyamuk. Di tingkat daerah, langkah yang dilakukan termasuk gerakan kepedulian terhadap sampah, kebersihan lingkungan, serta penerapan inovasi teknologi seperti penggunaan bakteri Wolbachia untuk menurunkan kemampuan virus dengue dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti.
Dr. Budi menjelaskan tantangan khusus di Jakarta: tingginya mobilitas penduduk yang berpotensi menyebarkan penyakit ke lokasi lain, serta kepadatan yang mempercepat penularan. Untuk itu, penanggulangan melibatkan berbagai pihak, dari masyarakat hingga sektor swasta.
Dampak Perubahan Iklim
Urgensi pencegahan DBD dinilai meningkat seiring perubahan iklim. Dalam catatan yang disampaikan, peluang terbentuknya El Niño mencapai 80% pada periode Juni–Agustus 2026 dan diperkirakan berlanjut dengan probabilitas di atas 90% hingga akhir tahun. Sebagian besar model prakiraan iklim memperkirakan intensitas El Niño sedang hingga kuat.
“Kondisi ini diperkirakan memengaruhi suhu udara dan pola curah hujan di berbagai wilayah Indonesia, berpotensi memperluas habitat dan mempercepat siklus hidup nyamuk Aedes aegypti, sehingga meningkatkan risiko penyebaran DBD secara lebih luas dan potensi wabah yang berkepanjangan,” kata dr. Budi Setiawan.
Beban Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan
Sebuah studi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang dikutip memperkirakan total beban ekonomi DBD mencapai hampir Rp9 triliun pada 2024, dengan lebih dari 2 juta kasus rawat inap. Studi itu menyebut BPJS Kesehatan menanggung sekitar Rp3 triliun, sedangkan pasien peserta BPJS dan keluarganya menanggung sekitar Rp3,5 triliun untuk pengeluaran langsung dan kehilangan pendapatan. Pasien non-BPJS beserta keluarganya menanggung sekitar Rp2,2 triliun.
Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, dr. Prima Yosephine, MKM, menyatakan beban DBD masih tinggi dan cenderung meningkat. Pemerintah telah merumuskan Strategi Nasional Penanggulangan Dengue 2021–2025 dan sedang mengembangkan Rencana Aksi Nasional (RAN) untuk mengefektifkan pendekatan komprehensif, termasuk edukasi, pemberantasan sarang nyamuk melalui 3M Plus, dan pemanfaatan inovasi pencegahan seperti vaksinasi.
“Kami juga mendorong keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, sekolah, komunitas, hingga sektor swasta,” ujar dr. Prima.
Kelompok Rentan dan Rekomendasi Vaksinasi
Data Kementerian Kesehatan per Januari 2026 menunjukkan kematian akibat DBD dalam tujuh tahun terakhir paling banyak terjadi pada usia 5–14 tahun, menyumbang 41% dari total kematian DBD pada 2025. Namun dalam lima tahun terakhir, kasus terbanyak ditemukan pada kelompok usia 15–44 tahun, mencapai 42% dari total kasus pada 2025.
Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), dr. Sukamto Koesnoe, mengatakan DBD tidak hanya menyerang anak, tetapi juga orang dewasa yang berisiko mengalami komplikasi serius.
Risiko komplikasi lebih besar pada individu dengan komorbiditas: hipertensi (2–3 kali lebih tinggi), diabetes melitus (3–5 kali lebih tinggi), penyakit ginjal (hingga 7 kali lebih tinggi), serta penderita asma atau penyakit paru kronik (2–12 kali lebih tinggi) dibandingkan pasien tanpa komorbiditas. PAPDI merekomendasikan vaksinasi DBD bagi orang dewasa usia 18–60 tahun sebagai bagian dari upaya perlindungan komprehensif.
Peran Sektor Swasta
Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, menegaskan komitmen perusahaannya mendukung upaya pencegahan DBD di Indonesia. Menurut Andreas, beban DBD terus tumbuh dan rata-rata kasus dalam lima tahun terakhir hampir tiga kali lipat dibandingkan dua dekade sebelumnya.
Andreas menyatakan dukungan melalui edukasi, perluasan akses terhadap perlindungan inovatif, serta kemitraan dengan pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi profesi, dan pemangku kepentingan lain.
Penanganan dini, peningkatan kewaspadaan masyarakat, dan kolaborasi lintas sektor disebut para narasumber sebagai langkah penting menghadapi potensi lonjakan kasus DBD pada 2027.
Ikuti Ihram.co.id
