Harga emas dunia berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan Rabu (17/6/2026) di tengah sinyal teknikal yang mendukung dan kenaikan minat investor terhadap aset safe haven.

Pantauan terakhir mencatat harga emas naik tipis 0,02% ke level US$4.331,93 per ons troi saat berita ditulis.

Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit menyatakan pergerakan harga pada timeframe H4 masih menunjukkan tren bullish yang solid dan harga mampu bertahan di atas area support penting, sehingga tekanan beli dinilai mendominasi pasar.

Menurut Geraldo, belum terdapat sinyal pelemahan signifikan, salah satunya karena harga belum menutup perdagangan di bawah area support kedua yang sebelumnya dipertahankan.

“Dalam kondisi saat ini, struktur bullish masih tetap terjaga. Selama harga mampu bertahan di atas area support, peluang untuk melanjutkan kenaikan masih cukup besar,” ujar Geraldo dalam risetnya, Rabu (17/6/2026).

Secara teknikal, ia menambahkan, harga emas telah membentuk swing low baru di area US$4.328 per ons troi. Kondisi itu menunjukkan pelaku pasar kembali melakukan aksi beli saat harga mendekati area support sehingga tekanan jual mulai mereda.

Geraldo memperkirakan selama level support tersebut bertahan, harga emas berpotensi menguji resistance terdekat di level US$4.354 per ons troi. Jika momentum beli berlanjut, kenaikan dapat menuju target berikutnya di kisaran US$4.369 per ons troi.

Indikator Stochastic juga masih menunjukkan sinyal positif menuju area overbought. Meski biasanya menjadi sinyal kewaspadaan, hingga kini belum terlihat indikasi pembalikan arah yang kuat.

“Hal itu menunjukkan momentum bullish masih mendominasi pergerakan harga emas dalam jangka pendek,” tambah Geraldo.

Sentimen Fundamental

Dari sisi fundamental, permintaan terhadap aset safe haven dinilai meningkat di tengah ketidakpastian ekonomi global. Perlambatan pertumbuhan di beberapa negara dan ketegangan geopolitik disebut mendorong minat beli emas sebagai instrumen lindung nilai.

Pelemahan dolar AS disebut menjadi katalis positif bagi emas karena membuat logam itu lebih murah bagi investor dengan mata uang lain, sehingga permintaan cenderung meningkat.

Faktor lain yang mendukung penguatan adalah penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury Yield), yang menurunkan biaya peluang memegang emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil tetap seperti obligasi.

Geraldo juga menyebut pasar mulai mempertimbangkan potensi pelonggaran kebijakan moneter The Fed jika perekonomian AS menunjukkan tanda perlambatan. Investor diperkirakan akan mencermati serangkaian data penting AS—dari inflasi, pasar tenaga kerja, hingga aktivitas manufaktur—sebagai penentu arah kebijakan.

Secara keseluruhan, Geraldo menilai prospek emas tetap positif. “Selama harga mampu bertahan di atas level support US$4.328 per ons troi, peluang kenaikan menuju resistance US$4.354 per ons troi hingga US$4.369 per ons troi masih terbuka dalam jangka pendek,” tutupnya.