Harga emas dunia kembali turun pada perdagangan Selasa (30/6/2026), memperpanjang tekanan yang membuat logam mulia itu berada di ambang catatan penurunan bulanan untuk keempat kalinya berturut-turut.

Sentimen pasar yang menekan harga berasal dari prospek kenaikan suku bunga The Fed, penguatan dolar AS, serta meredanya kekhawatiran geopolitik.

Pada saat berita ditulis, harga emas turun 1,29% ke level US$ 3.963,92 per ons troi. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus juga terkoreksi 1,47% ke US$ 3.980,15 per ons troi.

Periode penurunan sepanjang Juni mencapai sekitar 12,7%, menempatkan emas di ambang mencatat pelemahan bulanan untuk empat bulan beruntun, salah satu periode terburuk bagi logam mulia dalam beberapa tahun terakhir.

Dorongan Kebijakan Moneter dan Dolar

Tekanan pada harga emas meningkat setelah fokus pelaku pasar bergeser dari konflik Timur Tengah ke arah kebijakan moneter The Fed. Investor semakin yakin bank sentral AS akan mempertahankan sikap agresif untuk meredam inflasi melalui kenaikan suku bunga.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September sekitar 63%, dan mempertimbangkan kemungkinan hingga tiga kali kenaikan suku bunga sepanjang tahun ini.

Ekspektasi kenaikan suku bunga mengurangi daya tarik emas sebagai aset lindung nilai. Sebagai aset non-yielding, emas cenderung kurang diminati ketika suku bunga naik karena investor mengalihkan dana ke instrumen yang memberikan imbal hasil.

Dolar AS Makin Perkasa

Penguatan dolar AS juga menambah beban pada harga emas. Dolar yang lebih kuat membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lain sehingga permintaan cenderung melemah.

Selain itu, ketegangan di Timur Tengah disebut mulai mereda meski belum sepenuhnya usai. Tim negosiasi Iran dan AS sempat diharapkan bertemu di Doha pekan ini untuk membahas implementasi kesepakatan damai sementara, namun pemerintah Iran menyatakan belum ada jadwal resmi setelah aksi saling serang rudal akhir pekan lalu kembali menguji rapuhnya gencatan senjata.

Di AS, perhatian pasar juga tertuju pada putusan Mahkamah Agung yang menolak permintaan Presiden Donald Trump untuk memberhentikan Gubernur Federal Reserve Lisa Cook, keputusan yang dinilai memperkuat independensi bank sentral AS dalam menentukan arah kebijakan moneternya.

Pelaku pasar menantikan data ekonomi AS pekan ini, termasuk laporan tenaga kerja ADP dan data nonfarm payrolls, yang diperkirakan akan memengaruhi ekspektasi suku bunga The Fed dan pergerakan harga emas dalam jangka pendek.

Apabila data tenaga kerja menunjukkan ekonomi AS masih kuat, peluang kenaikan suku bunga diperkirakan semakin besar sehingga tekanan terhadap harga emas kemungkinan berlanjut.

Logam Mulia Lainnya Ikut Melemah

Logam mulia lain juga bergerak di zona merah. Harga perak spot turun 1,36% menjadi US$ 57,46 per ons, platinum terkoreksi 1,08% ke US$ 1.566,72 per ons, dan paladium turun 0,78% ke US$ 1.216 per ons.

Ketiga logam tersebut juga diperkirakan menutup Juni dengan kinerja negatif, sejalan dengan pelemahan pasar logam mulia secara keseluruhan.